Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 November 2017

Make Your Day Meaningful

Sudah lama nggak ngeblog. Mumpung belum jadi sarang laba2, saya posting lagi deh. Mudah2an nggak kena sindrom malas ngeblog lagi hehe. Maklum saya tahun ini lumayan sibuk bin padat agendanya wkwkwk. Mulai dari agenda super sibuk saat di MAN Kalibeber sampai jadwal keberangkatan ke Pulau Lombok dan memulai perjalanan panjang mengabdi menjadi seorang guru garis depan.

Oke deh. Langsung saja. Tempo hari ada seorang pengawas di sekolah tempat saya bertugas. Namanya Pak Sinarman. Orang Sembalun. Background nya mapel Bahasa Inggris. Sama kayak saya. Akhirnya saya lah yang dicek perangkatnya. Rupanya masih banyak yang perlu saya perbaiki dan saya tambahi. Banyak PR nih. Belajar lagi dan lebih semangat lagi.

Di sela2 pengawasannya, beliau ngasih sedikit "perkuliahan" ke saya dan guru2 yang hadir hari itu. Inti dari yang beliau sampaikan adalah bahwa kita sebagai guru harus datang ke tempat kerja dan pastikan bahwa kedatangan kita bermakna. Kayak judul postingan ini. MAKE YOUR DAY MEANINGFUL. Jangan pernah hanya datang saja tanpa berbuat sesuatu. Meskipun kecil dan sedikit, tinggalkanlah sesuatu yang bermanfaat.

Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tanam di hari kemudian. What we plant today is what we harvest in the future.

Make Your Day Meaningful
Lokasi: Labuhan Lombok, Pringgabaya, Lombok Timur
Gear: Nikon D3200
Read more ...

Kamis, 10 Maret 2016

Ayo Nabung Emas di Pegadaian

Berawal dari ngefollow akun twitternya mas Ippho Santosa, lalu ngeliat beberapa tweetnya yang merekomendasikan buat investasi emas, akhirnya saya kesampaian juga membuka rekening tabungan emas. Karena di pegadaian kota asal saya Wonosobo belum ada layanan tabungan emas, saya memutuskan untuk membuka rekening tabungan emas di pegadaian Purwokerto. Saat ini belum semua pegadaian di Indonesia ada layanan ini. Baru pegadaian-pegadain di beberapa kota besar saja yang sudah ada dan Purwokerto salah satunya.

Tabungan Emas
Nggak cuma uang, sekarang emas juga bisa ada buku rekeningnya lho
Sebagai orang yang masih awam di dunia emas, awalnya saya masih bertanya-tanya seperti apa tabungan emas di pegadaian itu, apa kelebihannya, apa bedanya dengan kredit emas, bagaimana cara nabungnya, dan sebagainya. Saya searching-searching di Google alamat dan kontak person pegadaian Purwokerto dan alhamdulillah ketemu. Awalnya saya hanya mengirim sms yang intinya menanyakan terkait tabungan emas. Tak disangka, saya langsung ditelpon. Petugas pegadaian yang menelpon saya kala itu menjelaskan sedikit gambaran tentang tabungan emas, lalu menyuruh saya untuk datang langsung ke kantor pegadaian Purwokerto jika ingin membuka rekening.
Read more ...

Sabtu, 02 Januari 2016

Tulisan Awal Tahun

Meski terik menyengat
Meski berat mengayuh

Ku takkan berhenti
Ku takkan menyerah

Karena hidup itu harus diperjuangkan
Karena hidup itu perlu tujuan 

(fila174/1/1/2016)

Sepeda kuno
Teruslah Mengayuh Selagi Masih Berkesempatan 
“Hidup itu memang harus punya tujuan.”
Read more ...

Selasa, 29 Desember 2015

Amar Kusuma, Anak Blederan yang Mendunia

Sekolah dan bekerja di luar negeri tak membuat Amar Kusuma lupa dengan kampung halamannya. Justru, ia masih bercita-cita ingin mencari ilmu sebanyak mungkin di negeri orang, agar bisa pulang dengan membawa ilmu. Siapa sangka, anak muda hebat ini adalah salah satu warga Desa Blederan, Kabupaten Wonosobo.

Amar Kusuma yang akrab disapa Amar ini, lahir pada tanggal 27 Maret 24 tahun yang lalu. Pemuda yang punya hobi musik ini adalah putra pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya adalah Elan Baskara (19) dan Adyan Pamungkas (14). Ayah Amar adalah Slamet Widodo dan Ibu adalah Siti Widiyanti, warga Dusun Klesman Kulon, Desa Blederan. Mereka berprofesi sebagai guru SMP. Tak mengherankan jika pendidikan adalah nomor satu bagi Amar.

Setelah selesai mengenyam pendidikannya di SD Unggulan Wonosobo dan SMP Negeri 1 Wonosobo, Amar melanjutkan pendidikannya di SMA Taruna Nusantara, Magelang. Disanalah ia mulai mempelajari bidang astronomi. Tahun 2008, ia berhasil meraih medali emas saat mengikuti ajang International Olympiad on Astronomy and Astrophysics. Bukti prestasinya inilah yang memuluskan jalannya untuk melanjutkan studi di Nanyang Technological University, Singapura.

SBY
Amar Bersalaman dengan SBY setelah Meraih Emas Olimpiade
Setelah kuliah, Amar memutuskan untuk tetap di Singapura dan bekerja di REC SOLAR sebagai Process Engineer, sebuah perusahaan yang memproduksi sel surya guna pembangkit listrik tenaga matahari. Sebagai Process Engineer, Amar bertugas mengawasi performa produksi di perusahaan, melakukan penelitian untuk meningkatkan hasil produksi, dan menganalisa mesin yang mengalami penurunan performa.
Read more ...

Minggu, 11 Oktober 2015

Jangan Lupa “Minum Kopi”

Suatu ketika, ada seorang dosen yang sedang berceramah di depan para mahasiswanya. Ia membawa beberapa alat peraga seperti sebuah toples, beberapa buah bola tenis, kelereng, pasir, dan beberapa cangkir kopi. Pertama, ia memasukkan beberapa bola tenis ke dalam toples sampai tidak muat lagi. Ia bertanya, “Apa masih muat?

Serentak mahasiswanya menjawab, “Sudah nggak muat, Pak.”

Lalu, ia memasukkan beberapa kelereng ke dalam toples yang sama sampai tidak muat lagi. Ia kembali bertanya, “Apa masih muat?

Nggak, Pak.” Jawab para mahasiswa kompak.

Kemudian, Ia memasukkan pasir masih ke dalam toples yang sama sampai penuh dan bertanya lagi, “Masih muat?

Nggak, Pak.” Sahut lagi para mahasiswa.

Terakhir, ia tuangkan beberapa cangkir kopi ke dalam toples tadi sampai penuh. Untuk terakhir kalinya, ia bertanya, “Apa masih muat?

Penuh, Pak.” Jawab lagi para mahasiswa.

Minum Kopi
Secangkir Kopi yang Bermakna
Sang dosen kemudian menjelaskan makna dari apa yang baru saja ia tunjukkan. Toples tadi ibarat kita sebagai manusia biasa. Kapasitasnya terbatas. Bola tenis tadi ibarat tanggung jawab kita terhadap agama, orang tua, anak dan istri, serta terhadap kesehatan kita sendiri. Bola kelereng tadi ibarat hal-hal yang penting dalam hidup kita, misalnya pendidikan, pekerjaan, dan sekolah anak. Sedangkan pasir tadi ibarat hal-hal lain yang bisa kita lakukan dalam hidup, seperti rekreasi, penampilan, Facebook, BBM, Whatsapp, dan lain-lain.
Read more ...

Kamis, 20 Agustus 2015

Memaknai Jodoh

Percayalah bahwa bahkan selembar daun yang jatuh dari pohon hari ini pun sudah tertulis di lauhul mahfudz. Semua yang terjadi di dunia ini sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah, sang Maha Pencipta Alam Semesta. Semua sudah digariskan jauh sebelum terjadi. Jika daun yang jatuh saja sudah digariskan, apalagi untuk urusan dunia yang lebih serius seperti jodoh. Jauh sebelum kita terlahir di dunia, siapa jodoh kita sudah tertulis dengan jelas, yaitu di lauhul mahfudz, seperti halnya daun yang jatuh tadi.

Sebagai manusia, yang bisa kita lakukan adalah berikhtiar menjemput jodoh kita. Menemukan yang baik dengan cara memantaskan diri. Karena wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, begitu pula sebaliknya. Selebihnya, serahkan pada Allah SWT. Yakin dan bersabarlah bahwa Dia punya rencana yang indah untuk hamba-Nya yang selalu berusaha. Dan jika seseorang yang kita harapkan ternyata tidak Allah dekatkan, barangkali doa dan ikhtiar kita yang kurang. Atau karena memang bukan dia yang tertulis di lauhul mahfudz. Jika sudah begitu, insyaAllah kita mampu untuk ikhlas.

Memaknai Jodoh
Memaknai Jodoh dengan Sabar dan Ikhlas
Read more ...

Sabtu, 11 Juli 2015

Yang Penting Allah Ridho

Tempo hari saya baca sebuah tulisan dari Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Inti dari tulisan ini adalah tentang satu kata yang ternyata memiliki makna yang sangat luar biasa. Sebuah kata yang juga sudah banyak digunakan oleh beberapa orang sebagai nama mereka. Sebuah kata yang mungkin belum banyak orang yang sudah benar-benar mampu mengaplikasikannya, termasuk saya. Kata itu adalah ridho. Ya. Ridho.

Ridho Allah
Cukupkan dengan Ridho Allah
Apa itu ridho? Simpel tapi sangat tidak mudah dilakukan. Begini. Misal ada seorang pedagang yang dagangannya tidak kunjung laris dan dia tidak kunjung kaya. Lalu dalam hatinya dia bilang begini, “Tak apalah daganganku tak laku. Tak mengapa jika Allah memang masih menghendaki aku miskin. Yang penting Allah tetap ridho dengan apa yang aku jalani.” Di sini, si pedagang tetap berusaha mencari rezeki halal dan tetap beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.
Read more ...

Senin, 23 Februari 2015

Kisah Pengajar Muda di Halmahera Selatan

Menebar optimisme dan Berbagi Inspirasi di pelosok nusantara agar tercipta dampak positif yang berkelanjutan. Begitulah kira-kira salah satu misi dari sebuah gerakan bernama Indonesia Mengajar (IM). Gerakan ini dipelopori oleh seorang profesional pendidikan yang sekarang menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan. Selain misi di atas, IM juga mempunyai misi membentuk anak muda Indonesia yang berkompetensi kelas dunia namun memiliki wawasan nusantara hingga ke akar rumput Indonesia.

Pengajar Muda di Halmahera Selatan
Roro, Pengajar Muda di Halmahera Selatan
Salah satu Pengajar Muda (sebutan untuk para penggerak IM) yang berkesempatan menjadi penebar inspirasi di pelosok negeri adalah Roro Ayu Kusumastuti. PM (Pengajar Muda) yang satu ini mendapat tugas di SD Inpres Sawangakar, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Desa Sawangakar adalah sebuah desa kecil yang hanya dihuni sekitar 60 KK. Desa ini berada di sebuah pulau kecil bernama Pulau Botang Lomang. Mayoritas penduduknya adalah suku Makian yang beragama Islam dan bermata pencaharian sebagai petani. Di desa ini, belum ada listrik dan sinyal telepon seluler. Saat malam hari, rumah-rumah hanya diterangi dengan lampu minyak, termasuk rumah yang ditinggali Roro.
Read more ...

Jumat, 13 Februari 2015

Impian Besar Butuh Pengorbanan!

Apa BJ Habibie tidur sebelum menjadi orang pertama di Indonesia yang mampu membuat pesawat?
Apa Dahlan Iskan tidur sebelum Jawa Pos menjadi koran dengan jaringan distribusi terkuat di Indonesia?
Apa Anies Baswedan tidur sebelum menjadi rektor termuda dan penggagas gerakan Indonesia Mengajar?
Apa almarhum Bob Sadino tidur sebelum usaha bisnis telur ayamnya menjadi yang terbesar di Indonesia?
Apa Chairul Tanjung tidur sebelum perusahaan miliknya Para Group menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia?
Apa Susi Pudjiastuti tidur sebelum pesawat Susi Airnya berhasil terbang hingga pelosok negeri?
Apa Andrea Hirata tidur sebelum novel Laskar Pelanginya terbit dan menjadi best seller di Indonesia?

Tokoh Inspiratif
Dahlan Iskan Tidur 4-5 Jam Sehari
Nama-nama di atas hanyalah beberapa dari tokoh-tokoh inspiratif Indonesia yang telah membuktikan bahwa dengan kerja keras, siapapun bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Mereka membuktikan bahwa memulai karir dari paling bawah sekalipun, dengan ketekunan dan kegigihan, cepat atau lambat pasti akan sampai di puncak prestasi. Mereka adalah orang-orang yang rela jam tidur mereka dikurangi demi mewujudkan impian besar mereka. Mereka adalah orang-orang yang sungguh-sungguh dengan impian mereka.
Read more ...

Kamis, 29 Januari 2015

6 Alasan Kenapa Harus Bangun Pagi

Matahari Pagi
Semangat Bangun Pagi
Apa kau termasuk orang yang susah bangun pagi? Jika iya, berarti kau termasuk orang yang tidak beruntung. Mengapa begitu? Karena bisa bangun pagi itu keren dan banyak manfaatnya! Coba saja kau perhatikan orang-orang yang sudah sukses, mereka punya satu kesamaan, yaitu selalu bangun pagi! Makanya, jika kau pengen sukses, pengen bangun karir, bangun usaha, bangun rumah tangga, jangan punya kebiasaan bangun siang. Berikut ini 6 alasan kenapa kita harus bangun pagi.

Read more ...

Selasa, 27 Januari 2015

Kios Kelontong Bu Siti Hajar

Kios Kelontong
Kios Kelontong Bu Siti Hajar
Sesuai dengan nama pemiliknya, kios ini dikasih nama kios kelontong Bu Siti Hajar. Kios ini terletak tidak jauh dari rumah saya. Biasa buka dari jam setengah 6 pagi sampai sore menjelang maghrib. Lalu apa yang menarik dari kios ini sehingga saya punya ide untuk menulis tentang kios ini?

Read more ...

Senin, 26 Januari 2015

Sepotong Inspirasi dari Liburan di Pulau Nunukan

Pantai Batulamampu Pulau Sebatik
Pantai Batulamampu, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan
Sepuluh tahun sudah saya di sini dan belum sekalipun pulang ke Jawa. Dulu saya ke sini modal nekad aja. Sebatang kara nggak kenal siapa siapa. Kalo tidur di masjid masjid. Untuk makan saja kadang cuma sekali sehari. Alhamdulilah kalo lagi darurat gitu, ada aja orang yang berbaik hati ngasih saya makan.”

Sampe berapa lama seperti itu, Mas?” Tanya saya.

Lama, bertahun-tahun pokoknya. Sampe akhirnya tiga tahun yang lalu Pak Wahyudi menemukan saya. Beliau mengajak saya ke rumahnya. Lalu saya ceritakan semuanya. Sejak saat itu saya selalu ikut beliau. Sampai sekarang. Saya nggak tau gimana cara berterima kasih sama beliau. Terlalu banyak yang sudah beliau berikan.

Ada rencana pulang ke Jawa, Mas?”

Alhamdulillah sekarang saya sudah diberi rezeki yang cukup. Jadi, rencananya lebaran tahun depan saya mau ngajak anak dan istri saya pulang ke Jawa.”

Sepuluh tahun enggak pulang, kontak-kontakan gitu nggak sama orang tua atau saudara?”

Sama sekali enggak. Dulu kan pas saya ke sini belum ada hape. Sekarang saya masih nyari-nyari informasi tentang keluarga saya. Mudah-mudahan besok pas pulang ke Jawa bisa ketemu mereka.”

Itu adalah sepenggal obrolan antara saya dengan Mas Doni, seorang pria asal Malang yang bekerja di dinas perhubungan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Waktu itu bulan Desember tahun 2013 ketika kami ngobrol-ngobrol di Pantai Batulamampu, Pulau Sebatik. Sebuah pulau kecil di Kabupaten Nunukan yang setengah wilayahnya adalah milik Malaysia. Sampai sekarang saya masih ingat betul obrolan singkat itu.

Read more ...

Rabu, 21 Januari 2015

Inspirasi dari Adik Sepupu

Yang Berkaca Mata dan Pake Kemeja Ungu, Itu EO nya, Ganteng kan? 
Tadi pagi menjelang siang sebelum saya ke kota Wonosobo untuk suatu urusan, ada salah seorang kawan mampir ke rumah. Setelah ngobrol ini itu, dia bilang ada sebuah pameran buku di depan Perpusda Wonosobo. Akhirnya siang tadi, saya sempatkan untuk mampir ke pameran tersebut. Di sana saya lihat yang jaga pameran masih terlihat sibuk menata dan melabeli buku-buka yang dipamerkan. Masih lumayan banyak juga buku yang belum dikeluarkan dari kardus. Maklum, pameran ini baru dimulai kemarin katanya. Rampungnya sendiri tanggal 5 Februari nanti.

Baru sebentar saya lihat-lihat buku yang ada di rak paling luar, saya berpapasan dengan sosok anak muda berkaca-mata yang langsung melempar senyum ke saya. Saya kenal pemuda ini. Namanya Jeni. Agak sedikit pangling memang. Sudah lumayan lama nggak ketemu soalnya. Dia adalah anak dari adik almarhum Bapak saya atau dengan kata lain dia adik sepupu saya. Dua tahun lalu dia sempat protes ke orang tuanya karena tidak mengabulkan keinginannya untuk kuliah di Jogja. Itu salah satu yang paling saya ingat dari dia.

Sekarang dia kuliah di UNSIQ (Universitas Sains Al Qur’an), Universitas kebanggaan orang Wonosobo. Satu-satunya soalnya, hehe. Awalnya saya pikir dia sedang nyari-nyari buku juga. “Nyari buku apa Jen?”. Itu pertanyaan yang saya lontarkan (Aslinya pake bahasa Jawa, saya ganti biar nggak roaming). Ternyata jawaban dia bukan nyari buku. Main-main juga bukan, apalagi modusin cewek-cewek SMA yang siang itu ada beberapa di situ. Bukan itu. Lalu ngapain dia disitu?

Read more ...

Sabtu, 17 Januari 2015

Gunakan Hape Pintar dengan Pintar

Pisau yang tajam bisa kita pakai buat motong segala macam sayuran dan buah-buahan. Bisa juga kita pakai buat motong ikan atau ayam. Banyak manfaat yang bisa kita dapat dari sebuah pisau yang tajam. Sebaliknya, pisau ini juga bisa sangat berbahaya. Jika disalahgunakan, pisau ini bisa melukai bahkan membunuh siapapun. Pisaunya sama tapi beda kegunaannya. Tergantung dari siapa yang pegang itu pisau. Sebuah perumpamaan yang sudah sering kita dengar.

Disadari atau tidak, perumpamaan seperti itu ternyata juga berlaku pada smartphone kita. Saat ini smartphone atau hape pintar sudah dimiliki oleh sebagian besar anak muda. Kalo nggak percaya, coba kalian liat di kampus-kampus, mall-mall, atau alun-alun pas minggu pagi, lalu hitung anak muda disitu yang pegang smartphone, hampir semuanya gaes! Cukup mencengangkan bukan? Paling tidak itu berdasarkan survey yang dilakukan oleh Cak Lontong. haha. Kalo yang di atas usia 40an mungkin tidak begitu karena mereka cukup pakai hape yang bisa telpon dan sms, yang baterainya bisa kuat sampai 4 hari.

Seperti halnya pisau tadi di atas, smartphone juga bisa memiliki fungsi ganda. Di satu sisi bermanfaat, di sisi yang lain membahayakan! Dan sisi mana yang lebih dominan tergantung dari pemiliknya. Kita bahas dulu kenapa smartphone bisa jadi sesuatu yang berbahaya. Kalo kita lihat daftar aplikasi gratis di PlayStore, BBM, Facebook, dan Whatsapp selalu duduk di peringkat teratas, at least sepuluh besar. Artinya, aplikasi-aplikasi ini yang paling banyak didownload. Lalu bahayanya dimana? Bahayanya ada di penggunaannya yang berlebihan. Berinteraksi di social media memang mengasyikkan. Tak ada yang memungkirinya. Tapi jika kita terlalu asyik di dalamnya, itu akan mengancam eksistensi kita di dunia nyata.

Kita semua tentu punya keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja bukan? Jangan sampai barang kecil bernama smartphone membuat hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita merenggang. Banyak yang tidak menyadarinya lho. Coba deh, kalau pas lagi kumpul sama keluarga, tinggalin smartphone kita, atau paling nggak matikan paketan internetnya, biar nggak ada notif masuk. Begitu juga kalau pas lagi ngumpul-ngumpul sama temen. Nggak seru banget kan kalo lagi ngumpul gitu, ada yang konsentrasinya ke hapenya terus. Suruh pulang aja kalo ada yang gitu mah. hehe.

Kalo tadi salah satu contoh sisi bahayanya (ingat, baru satu contoh ya), lalu apa sisi manfaatnya? Banyak. Social media kan sebenarnya bermanfaat banget tuh. Bisa menyambung silaturahmi dengan temen-temen lama kita. Bisa gabung dengan komunitas baru. Bisa juga buat jualan bagi yang lagi berwirausaha. Sosmed bisa memberikan manfaat yang luar biasa asal penggunaannya tepat dan proporsional,. Itu kuncinya.

Selain media sosial, masih banyak fungsi dari smartphone yang memberikan manfaat untuk si pemilik. Banyak kok aplikasi yang bermanfaat. Namanya saja hape pintar. Ya jelas pintar dong. Mau baca berita bisa. Baca ebook bisa. Maen game buat refreshing bisa. Nonton TV, nonton film, bisa. Dengerin musik bisa. Edit foto bisa. Masih banyak lagi. Ada satu aplikasi favorit saya. Namanya SuperNote. Aplikasi ini sangat membantu saya buat nulis ide-ide yang terlintas di otak saya. Jadi saya nggak harus bawa notebook kemana-mana. Walaupun sampai sekarang saya masih sering bawa notebook kemana-mana hehe. Kan ada yang bilang, ide bisa muncul secara tiba-tiba, tapi juga bisa hilang begitu saja. Makanya, begitu muncul ide, langsung tulis biar nggak ilang. Asal jangan ditulis di tembok rumah tetangga ya!

Oh ya, satu kebiasaan saya yang belum bisa digantikan posisinya oleh smartphone adalah membaca. Tadinya saya sempat kepikiran untuk mulai membaca ebook lewat aplikasi Amazon Kindle. Tapi sampai sekarang saya lebih suka membaca buku langsung. Lebih nyaman aja gitu. Tapi Amazon Kindle dari segi manfaatnya, lumayan recommended lah. Aplikasi semacam ini memungkinkan kita untuk membuka file pdf. Jadi yang hobi baca ebook, nggak perlu lagi bawa laptop kemana-mana. Apalagi bawa PC. Emang mau pindah kos-kosan?

Dan satu lagi aplikasi favorit saya adalah Instagram. Buat yang suka fotografi, pasti tau aplikasi yang satu ini. Saya biasa menge-share foto-foto hasil eksperimen saya di Instagram. Lewat aplikasi ini, kita juga bisa surfing foto-foto menarik. Cari dan follow saja fotografer-fotografer handal di Instagram, contohnya @fila174 (modus haha). Buat yang lagi nyari inspirasi buat foto pre-wedding, Instagram bisa jadi solusi. Ketik saja #prewedding atau hastag yang berhubungan dengan pre-wedding, pasti ketemu. Yang lagi belajar fotografi seperti saya, Instagram juga bisa jadi sahabat terbaik.

Aplikasi smartphone apapun itu, semua pasti mengandung dua sisi, bermanfaat dan berbahaya. Tergantung bagaimana kita menggunakannya. Gunakan hape pintar dengan pintar. Jangan sampai barang mungil ini malah memungilkan kita.

Be Smart with Your Smartphone” (fila174) 

Gunakan Hape Pinter dengan Pintar
Read more ...

Jumat, 16 Januari 2015

Belajar dari Udje dan "Ulat"

Masih ingat almarhum Ustadz Jefri Al Bukhori? Ustadz gaul yang dicintai umat karena ceramahnya yang enak didengar dan bisa diterima oleh semua kalangan. Mulai dari remaja sampai ibu-ibu, semua mencintai dan mengagumi ustadz yang mempunyai suara merdu ini. Bahkan, tak sedikit umat non-muslim yang juga menyatakan kekagumannya pada sosok yang akrab dipanggil Udje ini. Gaya bicaranya yang santun saat berceramah membuat beliau menjadi tokoh idola. Sayangnya, Allah memanggilnya begitu cepat. Tahun 2011, beliau wafat di usia 40 tahun setelah mengalami kecelakaan tunggal di Jakarta.

Tapi tahukah kalian bahwa dibalik sosoknya yang santun dan berkarisma, Ustadz  Jefri Al Bukhori, memiliki masa lalu yang kelam. Bukan maksud saya untuk membuka kembali masa lalu beliau yang tidak baik. Saya hanya ingin berbagi inspirasi dari kisah Udje yang berhasil meninggalkan dunia hitam dan kembali ke jalan Tuhan. Sebelum menjadi seorang pendakwah, beliau adalah seorang pemakai narkoba. Ketergantungannya pada barang haram itu sempat membuatnya dijauhi oleh masyarakat. Berkat usahanya yang gigih, akhirnya beliau berhasil meninggalkan narkoba. Tapi masalah tidak lantas berhenti sampai di situ. Saat pertama memutuskan untuk menjadi seorang juru dakwah, penolakan demi penolakan beliau terima, terutama dari warga sekitar yang mengetahui masa lalu beliau sebagai seorang pemakai narkoba. Namun, berkat kesabaran dan kesungguhannya untuk berubah, akhirnya beliau menjadi seorang ustadz yang dicintai oleh masyarakat.

Dari kisah almarhum Udje, apa pelajaran yang bisa kita petik? Ya, perubahan untuk menjadi lebih baik membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Ada proses yang harus dilalui. Semua orang memiliki masa lalu yang tidak baik dan ingin dihapus, tak terkecuali saya sendiri. Semua orang juga pasti menginginkan sebuah perubahan menjadi lebih baik. Tapi sayangnya, tak semua orang berhasil melakukannya. Hanya mereka yang sabar dan sungguh-sungguh yang akhirnya berhasil. Ulat saja bisa sabar menunggu proses panjang untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan bisa terbang, kenapa kita nggak bisa. Kadang kita juga perlu belajar dari “ulat”.

Macro Shot by Firdaus Laili
Read more ...

Kamis, 15 Januari 2015

Budayakan Hemat Listrik

Beberapa waktu yang lalu, saya mampir di sebuah acara di stasiun TV Jepang NHK World. Stasiun TV ini sering menayangkan budaya dan kehidupan orang-orang Jepang mulai dari yang tinggal di kota sampai yang ada di pedesaan. Acara yang saya tonton waktu itu adalah tentang bagaimana orang-orang di sebuah desa di Jepang menghemat penggunaan listrik. Selain terkenal dengan karakter disiplin dan pekerja keras, ternyata orang-orang Jepang juga membudayakan hidup hemat, termasuk hemat listrik.

Jadi begini ceritanya. Di desa yang hanya terdapat beberapa rumah itu (*mungkin lebih tepatnya dusun), setiap malam semua warganya selalu berkumpul di salah satu rumah. Rumah yang dijadikan tempat ngumpul bergiliran, mirip seperti acara Yasinan kalo di Indonesia. Bedanya kalo di Indonesia, pas ngumpul baca Surat Yasin bareng-bareng, kalo di sana tidak, hehe. Kalo Yasinan biasanya bapak-bapak saja yang berangkat, kalo di sana satu keluarga berangkat semua.

Lalu, setelah semua ngumpul, mereka ngapain? Banyak hal yang mereka lakukan saat ngumpul tiap malam. Ketika salah satu warga ditanya oleh reporter TV NHK World kenapa mereka selalu ngumpul seperti itu setiap malam, katanya biar hemat listrik sekaligus biar tambah akrab sama warga sekitar. Jadi dalam satu malam, hanya satu TV yang hidup di satu dusun. Super sekali bukan? Kalo di Indonesia mungkin TV di semua rumah hidup semua tiap malam. Betul tidak?

Di rumah yang dijadikan tempat kumpul, orang-orang dusun di Jepang tadi makan malam bersama. Setelah itu, ada yang nonton TV, ada yang nonton DVD, ada yang dengerin musik, dan ada yang sekedar ngobrol-ngobrol. Walaupun semua barang elektronik di rumah itu hidup semua, tapi kan yang di rumah-rumah yang lain mati semua. Jauh lebih hemat bukan? Setelah selesai semuanya, baru mereka kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat.

Di Indonesia, ada tidak ya yang mempraktekkan seperti itu? Boro-boro bisa seperti itu, yang lupa matiin TV karena ketiduran juga masih banyak. Apa Anda salah satunya? hehe. Kalau belum bisa seperti di dusun tadi, at least kita bisa mempraktekkannya dalam ruang lingkup yang lebih kecil, yaitu keluarga. Tiap malam, semua kumpul di ruang keluarga. Nonton TV bareng-bareng, curhat-curhatan, atau main tebak-tebakan juga boleh. Matikan semua lampu kecuali lampu di ruang keluarga dan lampu depan rumah (biar tidak dikira rumah tak berpenghuni hehe).

Kalo semua orang Indonesia bisa seperti itu, bisa dibayangkan, berapa banyak energi yang bisa dihemat oleh pemerintah? Berapa banyak uang yang dihemat oleh masyarakat karena tagihan listrik mereka menyusut? Bukankah uang hasil penghematan listrik bisa dialihkan untuk kebutuhan lain yang lebih bermanfaat? Mungkin itulah kenapa Jepang selalu lebih maju dari kita. Bukan karena sumber daya alamnya, tapi lebih karena manusianya yang memang harus diakui lebih berkualitas.

Ayo, mulailah membudayakan hidup hemat, terutama hemat listrik. Nyalakan TV seperlunya saja. Kalo malam mau tidur, pastikan TV sudah dimatikan. Matikan juga lampu ruangan yang sedang tidak dipakai. Matikan lampu kamar saat mau tidur. Selain hemat listrik, tidur bisa lebih nyenyak jika kamar dalam kondisi lampu dimatikan. Ingat! Jika ingin bangsa kita maju, mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari hal-hal kecil di sekitar kita. 

Photo by Firdaus Laili
Read more ...

Jangan Jadi Beban Bagi Orang Lain

Salah seorang teman SMA saya, sebut saja namanya Firman (*bukan nama sebenarnya) mengidap penyakit polio sejak kecil. Kaki kanannya lebih kecil dari kaki kirinya. Dia adalah anak pertama dari empat bersaudara. Saya mengenal dia sebagai sosok yang banyak disukai oleh teman-temannya. Walaupun punya fisik yang tidak sempurna, dia selalu berusaha untuk tidak menjadi beban bagi teman-temannya. Bahkan dia justru berusaha untuk bisa memberikan manfaat untuk teman-temannya.

Karena keterbatasan fisiknya, dia tidak mampu untuk berjalan jauh. Dia juga tidak mampu mengendarai sepeda motor sendiri. Padahal, tidak ada angkutan umum yang lewat di sekitar rumahnya. Walaupun begitu, dia tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Sedangkan ketiga adiknya masih kecil-kecil, belum bisa naik sepeda motor. Untung ada Hari (*nama samaran), teman satu SMA yang rumahnya berdekatan dengan Firman. Awalnya, Firman berangkat dan pulang sekolah nebeng Hari. Karena tidak ingin menjadi beban, akhirnya Firman menawari Hari untuk memakai motornya saja. Urusan bensin, Firman yang tanggung. Sejak saat itu, Firman dan Hari ke sekolah memakai motornya Firman.

Setelah lulus SMA, Firman dan Hari kuliah di kota yang berbeda. Firman di Jogja, sedangkan Hari di Semarang. Tapi Tuhan Maha Penolong. Hari sudah tidak bisa membantu lagi, datanglah Alif. Dia teman satu SMA juga. Kebetulan dia kuliah di kampus yang sama dengan Firman. Tahun pertama kuliah, Firman dan Alif tinggal di satu rumah kontrakan di Jogja. Tempatnya agak jauh dari kampus mereka. Berangkat dan pulang kuliah, Firman selalu nebeng Alif. Lagi-lagi, karena tidak ingin menjadi beban, Firman memutuskan untuk pindah ke sebuah kos-kosan tepat di depan kampusnya. Padahal saya tahu, tarif kos di situ lumayan mahal.

Yang saya ingat dari Firman, dia suka sekali mentraktir teman-temannya. Saat kuliah dulu, dia selalu punya banyak cemilan di kamarnya. Bukan untuk dia makan sendiri, tapi agar dia bisa menyenangkan setiap temannya yang main di kamarnya. Tau sendiri kan, anak kos pasti cepet banget kalo ada makanan gratis haha. Kebetulan orang tuanya Firman adalah pengusaha makanan oleh-oleh. Setiap dia habis mudik, dia pasti bawa banyak makanan oleh-oleh khas kota kami, Wonosobo.

Begitulah, sedikit cerita tentang salah seorang sahabat lama saya yang selalu berusaha untuk tidak menjadi beban untuk teman-temannya. Dengan keterbatasan fisiknya, bahkan dia selalu berusaha untuk bisa memberikan manfaat untuk teman-temannya. Orang-orang yang sehat secara jasmani tapi menjadi beban untuk orang-orang di sekitarnya harusnya malu sama orang-orang seperti Firman. Kalaupun belum bisa memberikan manfaat, paling tidak janganlah menjadi beban untuk orang-orang di sekitar kita

Photo by Firdaus Laili
Read more ...

Rabu, 14 Januari 2015

Always Be Enthusiastic!

Panning Shot by Firdaus Laili
Yes, it's totally true. If you want to be a great man, you need to have enthusiasm. People are always interested in a man with enthusiasm. When you work, work with enthusiasm. When you speak, speak with enthusiasm. When you walk, walk with enthusiasm. Whatever you do, always be enthusiastic. 
Read more ...

Memaksimalkan Masa Menganggur

Masa menganggur adalah masa yang paling bikin galau. Masa ini biasanya terjadi saat baru selesai kuliah. Bisa juga terjadi saat selesai SMA. Karena suatu alasan, belum bisa bekerja atau kuliah. Atau bisa juga terjadi setelah resign dari satu pekerjaan dan belum mendapatkan pekerjaan baru. Saat ini saya juga sedang dalam masa menganggur. Tapi bukan karena tiga skenario tadi.

Saya baru saja menyelesaikan tugas sebagai guru SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar) di Kalimantan Utara selama periode Agustus 2013 – September 2014. Setelah itu, setiap peserta program ini diberi bonus kuliah PPG (Pendidikan Profesi Guru) selama satu tahun. Yang menjadi masalah adalah jarak antara selesai SM3T dan mulai PPG yang terlalu lama. PPG baru akan dimulai pada akhir Februari 2015, padahal awal September 2014 kemarin, kami semua sudah pulang ke rumah masing-masing.

Selama hampir setengah tahun kami menganggur. Mau mencari pekerjaan, waktunya juga nanggung. Apa ada perusahaan atau instansi yang mau menerima karyawan untuk bekerja selama sekitar lima bulan saja? Akhirnya, berbisnis menjadi pilihan sebagian diantara kami, mulai dari jualan kaos bola, baju anak-anak, sampai sandal lucu. Selain berbisnis, ada juga yang memanfaatkan masa menganggur kami dengan menekuni hobi. Saya salah satunya.

Mumpung belum tersandera oleh kesibukan PPG yang katanya punya jadwal padat banget, saya memanfaatkan masa menganggur ini dengan menekuni hobi saya. Siapa tahu dari hobi bisa menjadi jalan rezeki saya nanti. Aamiin. Hobi saya yang pertama adalah memotret. Kebetulan di rumah ada kamera Canon 600D milik adik saya. Sebelumnya, saya cuma jeprat-jepret sana-sini pake kamera pocket atau kamera hape. Hasilnya pun kurang bagus dan saya sering kurang pede untuk mempostingnya di sosial media.

Semenjak pake DSLR, saya jadi lebih bersemangat nyari spot-spot yang bisa saya jadikan objek. Hasilnya lumayan lah walapun masih kalah jauh dengan punya fotografer pro. At least kali ini lebih bagus dari yang gak pake DSLR (ya iya lah). Sekali pergi ke satu tempat, biasanya hanya dua atau tiga foto yang saya posting di Instagram. Akun IG saya @fila174, follow ya hehe.. Sebelum foto diposting, tentu sudah masuk dapur photoshop dulu biar lebih bagus diliatnya.

Selain memotret, masa menganggur ini juga menghidupkan kembali semangat saya untuk menulis. Postingan ini salah satu hasilnya. Saya biasa nulis di blog ini dengan tema apa saja, seperti yang bisa kalian lihat di kategori. Walaupun masih amburadul, yang penting saya terus menulis. Lambat laun tulisan saya pasti membaik. Saya ulangi sekali lagi, yang penting terus menulis. Agar tidak kehabisan ide, saya biasa menulis ide-ide yang muncul secara tiba-tiba di buku saku atau di aplikasi SuperNote di hape.

Seperti halnya fotografi, hobi nulis juga berpotensi untuk menjadi jalan rezeki bagi siapa saja yang sungguh-sungguh menekuninya. Banyak penulis hebat yang sudah menghasilkan banyak uang. Mungkin saja kesuksesan mereka hanya berawal dari sekedar menyalurkan hobi di kala senggang. Karena sadar akan uang, mereka berhasil menjual buku-buku mereka. Orang bermental kaya selalu memandang segala sesuatu dengan pertanyaan “Ini bisa jadi duit nggak ya?” Kira-kira begitu.

Yang terakhir, masa menganggur ini saya isi dengan membaca. Apa saja yang penting baca. Buku non-fiksi berbahasa Inggris terutama yang berbau English teaching adalah yang paling banyak saya baca. Selain untuk meningkatkan skill reading saya, ini juga untuk persiapan saya jelang PPG nanti. Agak boring sih membaca buku beginian, makanya saya selingi dengan membaca buku-buku motivasi juga.

Bagi yang masih menganggur seperti saya, jangan cuma tidur dan nonton TV. Sambil mencari-cari pekerjaan, kalian bisa memulai bisnis usaha yang sesuai dengan hobi kalian. Jangan lupa juga belajar. Jangan mentang-mentang sudah selesai kuliah, terus berhenti belajar. Jika kalian muslim, tentu kalian sudah tahu kan kalo menuntut ilmu itu hukumnya wajib. Yakin deh, jika kita punya banyak ilmu, derajat kita akan dinaikkin sama Allah. Terakhir, saya ingin mengutip salah satu tweet dari Prof. Dr. Mahfud MD. 

“Siapa yang ingin baik di dunia, harus berilmu. Yang ingin baik di akhirat, harus berilmu. Yang ingin baik di dunia dan akhirat, harus berilmu pula.”


Maksimalkan Waktu Luangmu (Photo by Firdaus Laili)
Read more ...

Selasa, 13 Januari 2015

Keluar dari Zona Nyaman dan Jadilah Seorang Petarung

Berkutat di zona nyaman akan membuat kita tidak mempunyai jiwa petarung. Salah satu teman saya pernah bilang, "Utang di bank untuk usaha akan membuat saya bersemangat dalam bekerja karena saya punya deadline harus mendapatkan sejumlah uang untuk membayar cicilan. Dia memang saya kenal sebagai salah satu teman saya yang pekerja keras. Dia juga dikenal sebagai seorang yang mobile atau tidak bisa diam di rumah atau di kosan saat kuliah dulu. Ada saja yang dia kerjakan. 

Banyak orang yang memiliki jiwa petarung dan pekerja keras karena ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Semasa kuliah, dia harus mencari pekerjaan sambilan karena tidak mendapat uang saku yang cukup dari orang tua. Setelah lulus, dia harus pinjam sana-sini untuk membuka usaha dan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Akhirnya mau tidak mau dia harus bekerja keras banting tulang untuk melunasi hutangnya. Inilah yang membentuknya menjadi seorang pekerja keras.

Sebaliknya, karena seorang mahasiswa berasal dari keluarga yang berkecukupan, dia tidak perlu bekerja paruh waktu karena sudah diberi uang saku yang cukup oleh orang tuanya. Selesai kuliah, dia sudah mendapat cukup modal dari orang tuanya untuk memulai rumah tangganya sendiri. Akibatnya, jiwa petarungnya kurang terasah, walaupun tidak semuanya begitu. Ada yang dari keluarga yang berkecukupan namun memiliki jiwa petarung.

Mengasah jiwa petarung bisa dilakukan dengan cara keluar dari zona nyaman kita. Pertama, kenali dulu comfort zone kita, lalu keluarlah dari situ. Cari sesuatu yang menantang kita dan atasi tantangan itu. Contohnya, jika kita memang betul-betul ingin berwirausaha, maka bersungguh-sungguhlah. Beranikan diri untuk pinjam uang di bank sebagai modal awal. Banyak orang tidak berani melakukannya karena takut usahanya tidak jalan dan tidak bisa mengembalikan uang pinjaman. Justru di situlah tantangannya. Segala sesuatu yang hebat pasti mengandung resiko di dalamnya. Semakin kecil resikonya, berarti semakin biasa-biasa saja. 

"Get out of your comfort zone. Face your biggest challenge and take the risk. Be a fighter!"

Photo by Firdaus Laili
Read more ...