Tampilkan postingan dengan label Kisah Guru SM3T. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Guru SM3T. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2015

Pelajaran dari Orang-orang Pian Pasir

Ibu...

Tak terasa kurang lebih sebulan lagi aku selesai tugas di sini. Di Dusun Pian Pasir, Pulau Mubur, Kabupaten Kepulauan Anambas. Sedikit, aku ingin bercerita tentang tempat pengabdianku ini. Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau, daerah yang sebagian besar wilayahnya adalah lautan dengan panorama alam nan indah. Terumbu karang, biota bawah laut, dan kekayaan alam pun melimpah ruah. Namun, kekayaan itu tak serta merta menjadikan masyarakatnya sejahtera. Tak sedikit desa yang masih tanpa listrik dan pasokan minyak pun langka.

Ibu...

Pendidikan di sini juga masih memperihatinkan. Di saat gedung-gedung baru siap berdiri dan buku-buku sudah didistribusikan, kekurangan guru masih saja terjadi. Tak seperti di kota yang transportasinya lancar, siswa dan guru di sini harus menyeberang laut untuk menuju  ke sekolah. Kala hujan dan badai datang, tak jarang sekolah diliburkan untuk menghidari risiko kecelakaan laut.

Kepulauan Anambas
Anak-anak Pian Pasir, Kepulauan Anambas saat Berangkat Sekolah
Di sini aku dan kawan-kawan SM3T lainnya disambut dengan sangat baik oleh masyarakat setempat. Sejak awal kedatangan bahkan sampai saat ini pun kami masih disambut dengan sangat baik. Mereka sangat hangat, selalu ramah menyapa anakmu ini. Mengajak kami mampir di rumah mereka dan tak sungkan bercanda ria. Mereka berbicara dengan Bahasa Melayu, mirip saat kita menonton serial anak kembar karya negara tetangga. Rupanya orang-orang di sini dulunya memang sering pergi ke Malaysia menggunakan perahu.

Read more ...

Selasa, 14 Juli 2015

Kisah SM-3T di Sumba Timur: Belajar Hidup Sebagai Minoritas di Desa Nggongi

Hidup selama satu tahun jauh dari hingar bingar kehidupan kota di Pulau Jawa adalah sebuah tantangan besar. Itulah yang pernah dirasakan oleh Aang Saptadri Yahya, salah satu guru SM3T yang ditugaskan di Desa Nggongi, Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur. Bagi Aang, ikut program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) adalah sebuah tantangan yang harus bisa ia taklukkan. Tidaklah mudah untuk hidup sebagai minoritas di tengah-tengah berbagai keterbatasan. Butuh kesungguhan, tekad bulat, dan semangat pantang menyerah untuk bisa melaluinya.

Desa Nggongi, Kecamatan Karera, berjarak kurang lebih 130 km dari pusat Kota Waingapu. Untuk mencapai desa ini, dibutuhkan waktu sekitar 7-12 jam, tergantung dari jumlah penumpang di Oto. “Oto adalah kendaraan roda empat seperti truk yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk diduduki oleh penumpang” (Aang). Tidak hanya manusia yang dimuat kendaraan ini, tapi juga hewan seperti babi, kerbau, sapi, dan kuda. Jalan yang dilalui juga sangat ngeri. “Ngeri” dalam bahasa Sumba artinya bahaya, rusak, atau buruk. Bukit terjal, jalan berbatu, dan jurang menganga menjadi rute yang biasa dilewati Oto.

SM-3T Sumba Timur
Aang dan SM-3T Sumba Timur bersama Anak-anak Karera
Aang mendapat tugas mengajar di SMK Negeri 6 Karera sebagai guru mata pelajaran Kimia. Selain itu, karena keterbatasan jumlah guru, ia juga harus mengampu beberapa mata pelajaran lain seperti Matematika, Fisika, dan Biologi. Selain di SMK Negeri 6 Karera, pemuda lulusan Pendidikan Kimia Universitas Negeri Malang (UM) ini juga membantu mengajar di SMP Negeri 1 Ngadu Ngala, sebuah SMP dimana Aang bermukim selama satu tahun.
Read more ...

Selasa, 17 Maret 2015

Kisah SM3T Gayo Lues: Belajar Tari Saman

Menjadi Guru SM3T (Sarjana  Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) banyak memberikan pengalaman luar biasa yang tak semua orang bisa memilikinya. Tidak hanya pengalaman mengajar anak-anak di pelosok negeri yang unik, masih polos, dan belum tersentuh modernisasi, tapi juga pengalaman belajar tentang kebudayaan daerah setempat yang hanya sedikit orang bisa merasakan sendiri.

Salah satu guru SM3T yang beruntung karena berkesempatan belajar dan merasakan sendiri betapa kaya dan beragamnya kebudayaan yang dimiliki Indonesia adalah Imam Akbar, guru SM3T yang ditempatkan di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Imam Akbar adalah peserta SM3T angkatan III asal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang ditempatkan di SMP Negeri Satap Terangun, Desa Persada Tongra, Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues. Disebut SMP Satap karena sekolah ini masih satu atap dengan sekolah lain, yaitu SD Negeri 9 Terangun.

Kisah SM3T Gayo Lues
SMP Negeri Satap Terangun, Gayo Lues, NAD
Seperti halnya kabupaten-kabupaten lain di provinsi NAD, Gayo Lues masih tergolong sebagai sebuah Kabupaten yang sangat mengedepankan syariat Islam. Di jalan-jalan di kabupaten ini, banyak terdapat papan bertuliskan “Anda memasuki kawasan syariat Islam.” Nuansa keislaman masih sangat kental di kabupaten yang mayoritas penduduknya adalah suku Gayo ini.
Read more ...

Sabtu, 21 Februari 2015

Menjadi Ustadz untuk Anak-anak Dayak Tidung

Tak pernah terbayang sebelumnya dalam benak Ahmad Slamet Nur Hidayat bahwa ia akan menjadi seorang ustadz yang disayangi oleh murid-murid ngajinya di Kalimantan. Pemuda yang akrab disapa Slamet ini adalah salah satu guru SM3T yang ditempatkan di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Slamet mendapat tugas mengajar di SMP Negeri 1 Malinau Utara. Selain menjadi guru di sekolah, ia juga menjadi guru ngaji setiap sore. Murid-murid ngajinya adalah anak-anak Dayak Tidung, salah satu suku dayak yang ada di Malinau.

Menjadi Guru Ngaji
Slamet Saat Mengajari Anak-anak Dayak Mengaji 
Diantara 11 suku dayak yang ada di Kabupaten Malinau, ada 4 yang memiliki jumlah terbanyak, yaitu Dayak Tidung, Dayak Lundayeh, Dayak Kenyah dan Dayak Punan. Mayoritas Dayak Tidung beragama Islam, sedangkan dayak yang lain kebanyakan beragama nasrani. Meski warganya banyak yang berbeda keyakinan, namun kerukunan antar umat beragama di kabupaten ini terjalin dengan baik. Di Kabupaten yang berjuluk bumi intimung ini, hampir tak pernah ada kekerasan yang terjadi karena isu agama.
Read more ...

Selasa, 17 Februari 2015

Tugi, Pemburu Hebat di Pelosok Negeri

Namanya Tugi. Dia masih duduk di kelas 9 SMP Negeri 2 Mentarang Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara. Hobinya bermain sepakbola. Hampir setiap sore dia bermain bola di lapangan desa Long Pada. Saat Dwi Kristiyanto datang, salah satu guru SM3T yang ditugaskan di Long Pada, Tugi sangat senang karena Dwi adalah guru olahraga yang juga hobi bermain bola. Setiap ekskul sepakbola, Tugi selalu datang. Karena hobinya ini, dia menjadi salah satu pemain bola terhebat di desanya. Desa Long Pada bahkan menjadi juara pertama turnamen sepakbola antar kampung sekecamatan Sungai Tubu tahun lalu. Pemain terbaiknya siapa lagi kalau bukan Tugi.

Anak-anak Pedalaman
Anak-anak Sekolah di Long Pada
Di sekolah, Tugi sayangnya bukan termasuk siswa yang pandai. Dia bahkan selalu kesulitan dalam menerima pelajaran apapun, terutama yang menyangkut hitung menghitung. Perkalian angka puluhan saja, dia masih sering salah, padahal sudah kelas 9. Hitungan seperti itu kan seharusnya sudah dipelajari di bangku SD. Sulit bagi Tugi menerima materi pelajaran kelas 9 yang sesuai kurikulum yang dibuat oleh pemerintah.

Read more ...

Sabtu, 14 Februari 2015

Kami Ingin Terus Bersekolah

Perkenalkan nama kami Ismael, Enos, Apriansyah, dan Oki. Kami adalah siswa SMP Negeri 2 Mentarang Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara. Kami adalah anak-anak asli suku dayak Kalimantan. Kami tinggal di sebuah desa yang sangat jauh dari perkotaan. Desa kami ada di tengah-tengah hutan Kalimantan yang sangat luas. Sungai adalah tempat bermain kami sehari-hari. Seminggu sekali kami ikut orang tua kami berburu di hutan. Setahun sekali orang tua kami mengajak kami ke kota.

Guru SM3T Kalimantan
Kami Bersama Pak Firdaus
Yang di tengah-tengah kami adalah Pak Firdaus, guru SM3T yang datang dari Jawa. Ada lima guru SM3T yang datang ke desa kami. Semua dari Jawa. Kami sangat senang mereka datang. Sekolah kami jadi ramai lagi. Tak ada lagi kelas kosong karena tak ada gurunya. Kami jadi bersemangat lagi mengenakan pakaian putih biru setiap pagi datang. Kami juga jadi punya kegiatan setiap sore menjelang.
Read more ...

Rabu, 11 Februari 2015

Bekerja Sepulang Sekolah Demi Berkemah

Bekerja mencari uang sepulang sekolah adalah hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh anak SD (Sekolah Dasar), apapun alasannya. Namun, tidak demikian dengan apa yang dilakukan oleh siswa-siswa SD Negeri 007 Malinau Barat, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Mereka adalah murid-murid dari salah seorang guru SM3T asal Kebumen, Jawa Tengah, Imam Aji Subagyo, yang ditugaskan di Kabupaten Malinau, daerah perbatasan Indonesia Malaysia. Mereka bekerja sepulang sekolah demi mendapatkan sejumlah uang agar bisa pergi berkemah bersama gurunya.

Aji dan Dua Muridnya yang Mengenakan Pakaian Adat Dayak 
Read more ...

Sabtu, 31 Januari 2015

Perjalanan Menantang Maut Guru SM3T di Kabupaten Malinau

Long Boat
SM3T UNY Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara
Kabupaten Malinau adalah sebuah kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Bulungan. Kabupaten ini berada di Provinsi Kalimantan Utara yang juga merupakan daerah pemekaran. Sebelum awal tahun 2014, provinsi ini masih masuk dalam wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Malinau yang memiliki sebutan Bumi Intimung ini memiliki luas wilayah kira-kira 1,5 kali luas wilayah Provinsi Jawa Barat!

Namun, luas wilayah Kabupaten Malinau tidak berbanding lurus dengan jumlah penduduknya. Menurut informasi yang saya dapat dari salah satu pejabat pemerintahan setempat saat acara pembekalan guru SM3T 2013, jumlah penduduk Kabupaten Malinau hanya dua kali lipat jumlah mahasiswa UNY! Artinya jika jumlah mahasiswa UNY berjumlah sekitar 60 ribu jiwa, maka jumlah penduduk kabupaten ini hanya sekitar 120 ribu jiwa. Maka tak heran jika sebagian besar wilayah kabupaten ini masih berupa hutan belantara yang belum berpenghuni.

Selain bentangan hutan rimba yang sangat luas, sungai-sungai besar dengan arus yang berbahaya juga banyak ditemui di Kabupaten Malinau. Beberapa guru SM3T asal UNY yang bertugas di sana merasakan betapa kerasnya perjuangan mereka menaklukkan sungai-sungai besar itu demi bisa menjangkau lokasi sekolah tempat mereka bertugas. Salah satu yang mendapat kesempatan langka itu adalah Syaiful Anwar, guru SM3T yang mendapat tugas di Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau.

Desa ini adalah satu dari beberapa daerah sasaran program SM3T di Kabupaten Malinau yang menggunakan jalur sungai sebagai akses menuju ke sana. Alat transportasi yang digunakan adalah long boat atau ketinting. Long boat memiliki ukuran lebih besar, mampu menampung 4 hingga 5 penumpang. Sedangkan ketinting hanya mampu menampung 2 hingga 3 penumpang saja. Namun, perahu kecil ini memiliki kemampuan menaklukkan sungai-sungai kecil dengan jeram-jeram berbahaya.

Syaiful bercerita tentang perjalanan panjangnya menggunakan long boat dan ketinting dari kota Malinau menuju Desa Long Alango. Petualangan hebat pemuda asal Yogyakarta ini baru dimulai saat ia sudah sampai di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan. Jadi ia harus ke dermaga Tanjung Selor dulu sebelum berangkat menuju ke Long Alango. Dari dermaga ini, ia menumpang sebuah long boat pengangkut minyak dan sembako. Semua barang yang dibawa perahu jenis ini ditutup dengan sebuah terpal panjang agar tidak kena basah saat hujan datang atau saat ada terjangan air sungai yang masuk ke dalam perahu.

Hari itu, Syaiful bersama si pemilik long boat memulai perjalanan sekitar jam 7 pagi. Di awal perjalanan, Syaiful disuguhi pemandangan Sungai Bahau yang besar dengan pohon-pohon besar khas Pulau Kalimantan di sepanjang pinggiran sungai. Setelah menyusuri sungai begitu jauh, sekitar jam 3 sore mereka berhenti untuk mengisi bahan bakar di sebuah pos tempat pengisian bahan bakar khusus untuk perahu-perahu yang lewat situ.

Hampir seharian penuh Syaiful berada di atas long boat yang ia tumpangi. Jam 6 sore, saat langit sudah mulai gelap, motoris long boat (*orang yang mengendalikan long boat) memutuskan untuk menghentikan perjalanan mereka hari itu dan melanjutkanya keesokan harinya. Mereka pun menginap di sebuah pondok yang ada di pinggiran sungai. Pondok seperti ini biasanya sangat jauh dari pemukiman manapun dan bisa ditemui di pinggiran sungai Kalimantan. Pondok-pondok ini memang dibuat untuk bermalam orang yang berada di tengah perjalanan seperti Syaiful.

Orang Kalimantan biasanya mengandalkan makanan yang disediakan oleh alam saat mereka berada di tengah perjalanan panjang di tengah hutan. Begitu juga dengan Saiful saat itu. Untung saja, malam itu ia bersama dengan orang yang tepat, orang asli Kalimantan yang sudah terbiasa dalam hal berburu makanan di hutan. Di sini, Syaiful banyak belajar tentang bagaimana cara bertahan hidup dengan mengandalkan alam sekitar. Sebuah pelajaran berharga yang akan sulit ia temui di tempat asalnya.

Malam sudah berlalu dan berganti pagi. Syaiful sudah bersiap untuk melanjutkan kembali perjalanannya setelah beristirahat mengembalikan tenaga dan mental yang terkuras hari sebelumnya. Kali ini, sungai yang dilalui semakin kecil. Bahkan beberapa kali penumpang harus turun saat long boat melewati aliran sungai yang dangkal dan berbatu. Hal ini untuk mengurangi resiko long boat karam atau pecah. Menurut cerita warga setempat, tidak jarang ada kejadian perahu karam dan memakan korban jiwa.

Karena kondisi sungai yang semakin menyempit dan berbatu, motoris tidak berani ambil resiko. Dia pun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Saat itu, Syaiful tidak tahu dia ada di mana dan harus berbuat apa. Ia hanya berharap ada perahu yang lewat dan mau memberinya tumpangan. Pemilik long boat pun hanya menyarankan untuk menunggu siapa tau ada ketinting yang lewat dan sedang menuju ke Long Alango. Berjam-jam Syaiful menunggu seorang diri, ketinting yang ia harapkan tak kunjung datang.

Akhirnya, Tuhan mendengar doa Syaiful. Sebuah ketinting yang dibawa oleh seseorang yang bernama Pak Apui lewat dan bersedia memberikan tumpangan. Saat itu, Pak Apui bak seorang pahlawan bagi Syaiful. Kebetulan sekali dia juga hendak menuju ke Desa Long Ampung. Petualangan Syaiful yang panjang itu pun berlanjut, dengan perahu dan motoris yang berbeda. Saat itu hari sudah sore dimana rintik-rintik hujan mulai turun. Sungai yang dilalui semakin kecil dengan bebatuan semakin banyak dan jeram-jeram berbahaya semakin banyak terlihat.

Saat hujan gerimis berubah menjadi hujan lebat, saat dimana langit juga semakin gelap, mesin ketinting yang Syaiful tumpangi tiba-tiba mati seketika. Pak Apui berteriak meminta Syaiful untuk membantunya mendayung agar ketinting bisa segera dipinggirkan. Dibawah guyuran hujan yang sangat deras dan arus sungai yang semakin besar, Syaiful sekuat tenaga membantu Pak Apui mendayung ketinting. Jika saja dalam keadaan mesin mati tidak segera menepi, ketinting bisa melintang dan terbalik. Jika ini terjadi, Syaiful tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Ia sangat bersyukur bisa melewati momen berbahaya itu.

Dengan mesin ketinting yang tersendat-sendat, mereka melanjutkan perjalanan walaupun hujan deras masih turun. Sampailah akhirnya mereka di sebuah pemukiman kecil di mana warganya mengenal Pak Apui. Nama pemukiman ini adalah Desa Long Tebulo. Hanya ada beberapa rumah saja di dalamnya. Karena hari sudah mulai gelap dan mesin ketinting juga mengalami kerusakan, akhirnya Syaiful dan Pak Apui memutuskan untuk singgah di desa itu dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya setelah mesin diperbaiki. Kali ini lebih baik dari malam sebelumnya, Syaiful bisa bermalam di sebuah rumah milik warga Desa Long Tebulo.

Setelah melewati dua hari dua malam yang melelahkan, perjalanan Syaiful tak kunjung berakhir. Ia belum tau kapan ia akan sampai di Desa Long Alango. Pagi keesokan harinya, Pak Apui memperbaiki mesin ketintingnya dan siap untuk melanjutkan perjalanan. Rupanya jarak antara Desa Long Tebulo dan Desa Long Ampung tidak begitu jauh. Saat itu hanyak ditempuh sekitar 40 menit perjalanan menggunakan ketinting. Kedua desa itu masih berada dalam satu kecamatan yaitu Kecamatan Bahau Hulu.

Syaiful sangat bersyukur karena dia berhasil melewati sebuah perjalanan panjang nan melelahkan dengan selamat. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa ia akan mengalami sebuah petualangan sehebat itu di pedalaman Kalimantan. Sebuah pengalaman yang sangat berharga karena tak semua orang memilikinya. Sesampainya di Desa Long Alango, Saiful memulai petualangan barunya sebagai seorang Guru SM3T yang mengajar anak-anak di Desa Long Alango, sebuah desa di pelosok negeri yang jauh dari hingar bingar dunia perkotaan. (fila174)

SM3T Malinau
Syaiful Bersama Warga SMA N 10 Malinau Desa Long Alango
Read more ...

Jumat, 23 Januari 2015

Kisah Guru di Perbatasan Indonesia Malaysia

Menjadi seorang guru di perbatasan adalah sebuah tantangan yang hanya segelintir orang mau melakukannya. Salah satu yang telah berhasil melakukannya adalah Eko Rizqa Sari, guru SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang bertugas di Kecamatan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Pemuda asal Kebumen, Jawa Tengah ini mengajar di SMA Negeri 9 Malinau. Sekolah ini berada di Desa Long Ampung, Kecamatan Kayan Selatan yang hanya berjarak sekitar 2 jam perjalanan dari Serawak, Malaysia.

Perbatasan Indonesia Malaysia
Eko di Tugu Perbatasan
Eko Rizqa Sari yang merupakan lulusan Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta ini bercerita saat dia pertama kali melakukan perjalanan mendebarkan menuju Desa Long Ampung. Jalur udara adalah satu-satunya akses yang bisa ditempuh dari kota Malinau menuju Kecamatan Kayan Selatan. Tidak ada jalur darat karena medan yang dilalui adalah hutan belantara yang sebagian besar masuk wilayah Taman Nasional Kayan Mentarang. Ini adalah area hutan konservasi terbesar kedua setelah hutan Amazon di Amerika Selatan.

Pesawat yang dipakai oleh Eko untuk menuju ke Desa Long Ampung adalah Twin Otter. Di Indonesia, pesawat ini sering digunakan untuk menjangkau daerah pelosok seperti di Kalimantan dan Papua. Pesawat kecil nan tangguh ini bisa lepas landas dan mendarat di landasan yang “seadanya”. Saat terbang, pesawat ini tidak bisa stabil seperti pesawat-pesawat besar. Penumpang akan merasakan sensasi seperti naik roller coaster saat naik pesawat buatan Kanada ini.

“Saya mabuk udara saat naik pesawat itu. Seperti naik roller coaster saja. Apalagi pas lepas landas, pesawat bergetar hebat. Hampir saja muntah tapi untung sudah keburu mendarat.” Kata Eko saat menceritakan pengalaman pertamanya naik pesawat Twin Otter.

Read more ...

Rabu, 24 September 2014

Bayi Bernama Junaidi Firdaus

Yohana
Satu tahun sudah aku mengabdi menjadi guru SM-3T di Desa Long Pada, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Banyak sekali cerita, pengalaman, dan pelajaran berharga yang aku dapatkan selama satu tahun di tempat tugas. Ada satu cerita mengharukan yang aku alami saat menjelang akhir penugasanku. Namanya Yohana, dia adalah murid kelas 3 SMP yang paling aktif di kelasnya. Walaupun bukan yang terpandai, namun dia selalu bersemangat saat belajar, baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Bahkan, dia yang paling sering datang ke mess guru SM-3T malam-malam untuk belajar.

Menjelang perpisahan murid SMP Negeri 2 Mentarang dengan guru-guru SM-3T, mungkin Yohana adalah murid yang paling merasa sedih. Selama satu tahun ini, murid-murid memang sangat dekat dengan para guru SM-3T, demikian halnya dengan Yohana. Tidak hanya kegiatan di dalam kelas, kami juga hampir setiap hari melakukan berbagai aktivitas di luar sekolah bersama, misalnya berkebun, memancing ikan, mencari kayu bakar, dan berolahraga seperti sepakbola, bola voli, dan badminton.

Yohana adalah anak asli Desa Long Pada. Beberapa minggu sebelum aku dan teman-temanku mengakhiri tugas di desa itu, Mamak Yohana melahirkan seorang bayi laki-laki. Atas kemauan Yohana, bayi itu diberi nama Junaidi Firdaus. Junaidi diambil dari nama guru SM-3T angkatan II yang bertugas di Desa Long Pada, Junaidi Abdillah, sementara Firdaus adalah namaku! Saat mendengar hal itu, perasaanku campur aduk, antara kaget, terharu, senang, dan sedih. Mungkin orang tua Yohana tidak tahu apa arti sebenarnya dari nama Junaidi dan Firdaus. Yang mereka tahu hanya dua orang guru SM-3T yang pernah mengajar di Desa Long Pada. 

Yohana Saat Memberiku Kenang-kenangan Sebuah Anjat 
Read more ...