Jumat, 16 Januari 2015

Belajar dari Udje dan "Ulat"

Masih ingat almarhum Ustadz Jefri Al Bukhori? Ustadz gaul yang dicintai umat karena ceramahnya yang enak didengar dan bisa diterima oleh semua kalangan. Mulai dari remaja sampai ibu-ibu, semua mencintai dan mengagumi ustadz yang mempunyai suara merdu ini. Bahkan, tak sedikit umat non-muslim yang juga menyatakan kekagumannya pada sosok yang akrab dipanggil Udje ini. Gaya bicaranya yang santun saat berceramah membuat beliau menjadi tokoh idola. Sayangnya, Allah memanggilnya begitu cepat. Tahun 2011, beliau wafat di usia 40 tahun setelah mengalami kecelakaan tunggal di Jakarta.

Tapi tahukah kalian bahwa dibalik sosoknya yang santun dan berkarisma, Ustadz  Jefri Al Bukhori, memiliki masa lalu yang kelam. Bukan maksud saya untuk membuka kembali masa lalu beliau yang tidak baik. Saya hanya ingin berbagi inspirasi dari kisah Udje yang berhasil meninggalkan dunia hitam dan kembali ke jalan Tuhan. Sebelum menjadi seorang pendakwah, beliau adalah seorang pemakai narkoba. Ketergantungannya pada barang haram itu sempat membuatnya dijauhi oleh masyarakat. Berkat usahanya yang gigih, akhirnya beliau berhasil meninggalkan narkoba. Tapi masalah tidak lantas berhenti sampai di situ. Saat pertama memutuskan untuk menjadi seorang juru dakwah, penolakan demi penolakan beliau terima, terutama dari warga sekitar yang mengetahui masa lalu beliau sebagai seorang pemakai narkoba. Namun, berkat kesabaran dan kesungguhannya untuk berubah, akhirnya beliau menjadi seorang ustadz yang dicintai oleh masyarakat.

Dari kisah almarhum Udje, apa pelajaran yang bisa kita petik? Ya, perubahan untuk menjadi lebih baik membutuhkan kesungguhan dan kesabaran. Ada proses yang harus dilalui. Semua orang memiliki masa lalu yang tidak baik dan ingin dihapus, tak terkecuali saya sendiri. Semua orang juga pasti menginginkan sebuah perubahan menjadi lebih baik. Tapi sayangnya, tak semua orang berhasil melakukannya. Hanya mereka yang sabar dan sungguh-sungguh yang akhirnya berhasil. Ulat saja bisa sabar menunggu proses panjang untuk menjadi seekor kupu-kupu yang indah dan bisa terbang, kenapa kita nggak bisa. Kadang kita juga perlu belajar dari “ulat”.

Macro Shot by Firdaus Laili

2 komentar: