Tempo hari saya baca sebuah tulisan dari Emha Ainun Najib atau Cak Nun.
Inti dari tulisan ini adalah tentang satu kata yang ternyata memiliki makna
yang sangat luar biasa. Sebuah kata yang juga sudah banyak digunakan oleh
beberapa orang sebagai nama mereka. Sebuah kata yang mungkin belum banyak orang
yang sudah benar-benar mampu mengaplikasikannya, termasuk saya. Kata itu adalah
ridho. Ya. Ridho.
![]() |
| Cukupkan dengan Ridho Allah |
Apa itu ridho? Simpel tapi sangat tidak mudah dilakukan. Begini. Misal ada
seorang pedagang yang dagangannya tidak kunjung laris dan dia tidak kunjung
kaya. Lalu dalam hatinya dia bilang begini, “Tak apalah daganganku tak laku.
Tak mengapa jika Allah memang masih menghendaki aku miskin. Yang penting Allah
tetap ridho dengan apa yang aku jalani.” Di sini, si pedagang tetap berusaha
mencari rezeki halal dan tetap beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.
Si pedagang tadi melakukannya semata-mata karena ingin mendapatkan ridho
Allah. Asal Allah nggak Marah. Asal Allah senang kepadanya. Perkara dagangannya
laku atau tidak, perkara dia kaya atau miskin, perkara ibadahnya akan
membuatnya masuk surga atau tidak, tidaklah penting baginya. Yang penting Allah
ridho. Semua yang dia lakukan adalah karena Allah. Bukan karena surga atau
neraka, apalagi karena dunia. Simpel bukan? Secara teori memang simpel.
Nah, bagi yang masih seret rezeki, jodoh belum
dikasih, keinginan belum terwujud, atau merasa hidup tak kunjung lapang,
mungkin ridho bisa jadi obat paling mujarab. Kalo memang semua sudah jadi
kehendak Allah, tak ada yang bisa dilakukan oleh manusia. Siapapun itu. Baik anak
presiden maupun anak tukang siomay. Jadi, lakukan saja yang terbaik. Do your
best. Tak usah itung-itungan. Apalagi sama Allah. Yang penting Dia ridho.
(fila174)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar