Tampilkan postingan dengan label Momen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Momen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Maret 2016

Menuju Guru Garis Depan

Tepat satu tahun, usai sudah cerita panjang kami menjalani pendidikan berasrama di kampus tiga menara ini. Suka dan duka. Dari gelak tawa, canda ria, senyum manis, sampai isak tangis, semua telah kami lalui bersama-sama. Dari yang tak mengenal sama sekali, menjadi sahabat yang dekat sekali. Dari yang tak peduli sama sekali, menjadi tertarik dan saling mengasihi, terangkum dengan sangat indah nan mengharukan. Hari ini semua tersenyum, akhirnya kami yudisium.

Yudisium UNY
Bareng Pak Rektor
Tiada kata yang lebih patut untuk dilayangkan selain rangkaian kata terima kasih. Untuk para dosen, pengelola asrama, teman-teman, serta semua pihak yang telah mengisi hari-hari kami selama setahun ini. Kampus ini sungguh telah memberikan yang terbaik untuk kami, para calon guru muda penerus pahlawan bangsa. Tak akan pernah kami lupakan jerih payah dosen-dosen kami. Sabar menuntun hingga akhir, bahkan hingga tak tampak lagi raut wajah lelah seolah tak ingin ada satupun diantara kami yang tidak tersenyum hari ini.
Read more ...

Sabtu, 25 Juli 2015

Indahnya Lebaran

Lebaran. Ya. Satu kata yang selalu terdengar menggembirakan. Maklum, satu tahun cuma sekali dan biasanya dikasih libur panjang. Kalo anak sekolahan atau kuliahan bisa sampai dua minggu. Kalo yang sudah kerja, biasanya sekitar satu minggu. Begitu libur, langsung mudik kembali ke kampung halaman. Sejenak meninggalkan pekerjaan kantor, urusan bisnis, tugas kuliah, dan lain sebagainya. Sebelum mudik, nyiapin oleh-oleh untuk orang tua dan sanak saudara di kampung. Lalu mudik. Menikmati perjalanan panjang yang padat tak seperti biasanya. Penuh dengan mobil dan motor dengan barang bawaan yang sejibun. Ah. betapa menyenangkannya mudik.

Saat tiba kampung halaman, orang tua sudah menanti. Melihat mereka kembali setelah sekian lama adalah sebuah kebahagiaan yang tak ternilai. Rasanya ingin segera mencium tangan mereka. Lalu, cucu-cucu mereka yang sambil membawa oleh-oleh pun ikut memberi salam. Mereka pun melepas rindu sambil menanti berbuka puasa bersama. Sungguh sangat menggembirakan.

Hari lebaran pun tiba. Gema takbir dikumandangkan. Anak-anak kecil berbaris sambil membawa obor. Kembang api di mana-mana mengalahkan bulan dan bintang yang menerangi malam takbiran. Di rumah, ibu dan nenek menyiapkan makanan untuk lebaran esok. Ada ketupat, opor ayam, aneka kue, dan lain sebagainya. Sajian khas lebaran yang selalu dirindukan.

Kembang api
Malam Takbiran (Lokasi: Desa Sitiharjo, Wonosobo)
Pagi harinya. Semua mengenakan pakaian terbaik. Tak harus baru. Semua berbondong-bondong ke masjid untuk menunaikan sholat Idul Fitri. Lalu, bersalam-salaman dengan seluruh jamaah. Saling memberi maaf satu sama lain. Sambil mendendangkan shalawat Nabi. Rasanya jiwa ini kembali suci. Indah sekali.
Read more ...

Senin, 13 Juli 2015

Mulih Udik (Mudik)

Aku mudik lagi. Untuk kesekian kalinya aku merasakan kegembiraan mudik lebaran. Apalagi setelah tidak pulang selama beberapa bulan. Mudik jadi terasa lebih menyenangkan. Masih seperti yang sebelum-sebelumnya, aku mudik naik motor dari Jogja ke daerah asalku, Wonosobo. Bedanya, jika dulu dari kosan, tahun ini aku mudik dari asrama UNY kampus Wates, tempatku menjalani program PPG SM-3T selama satu tahun.

Mudik lebaran
Jangan Lupa Istirahat Kalo Capek Saat Mudik (Lokasi: Kulonprogo)
Rasanya baru kemarin PPG SM-3T dimulai. Bertemu kawan-kawan baru. Melakukan kegiatan-kegiatan seru di asrama. Berjibaku menjalani workshop SSP bersama. Menyelesaikan RPP, Peer-teaching, PTK, dsb. Berjuang bersama, tertawa bersama, berlelah-lelahan bersama. Tak terasa. Empat bulan sudah berlalu. Kini saatnya berlibur pulang ke rumah masing-masing. Kembali ke kampung halaman. Menikmati hari-hari terakhir bulan Ramadhan dan berlebaran bersama keluarga.
Read more ...

Selasa, 26 Mei 2015

Aku Nonton Mata Najwa

Ribuan manusia yang sepertinya hampir semuanya mahasiswa rela mengantri di bawah terik matahari kota Jogja demi mendapatkan sebuah tiket. Ini bukan antrian audisi Indonesian Idol atau X-Factor. Mungkin ada sebagian yang masuk dalam kategori anak layangan (disingkat alay) tapi aku jamin tak sebanyak yang ada di konser Dahsyat, Inbox, atau sejenisnya. Ini yang membuat aku rela meninggalkan ruang kelasku yang ber-AC, jalan kaki menuju GOR UNY, dan ikut berpanas-panasan mengantri tiket. Ya, yang kami perjuangkan adalah tiket nonton Mata Najwa on Stage yang akan digelar keesokan harinya. Sebuah tontonan untuk kalangan intelektual yang tidak apatis terhadap bangsa dan kritis terhadap perubahan. Bukan tontotan para alay yang suka menjerit-jerit saat melihat vokalis pujaannya menyanyi.

Mata Najwa on Stage
Tiketku Nonton Najwa Shihab
Dua SPG cantik ber-rok mini sempat menggodaku dengan senyum manisnya sembari menawarkan tiket dan minuman kopi instan seharga Rp 20.000,-. Dengan ramah, aku menolak dan memilih untuk mengantri saja, meski panjang. Prinsipku, sesuatu yang didapat dengan susah payah, pasti ada kepuasan tersendiri nantinya. Ganbatte.
Read more ...

Senin, 16 Februari 2015

Event Komunitas Sastra Bimalukar

Komunitas Sastra Bimalukar
Tahlilan Mengenang Almarhum Vanera El-Arj.
Cukupkan dengan Cinta

Haruskah kucari
Kububuhkan kata-kata
Dan wajah-wajah keindahan lagi
Saat keindahan tertinggi
Telah kutemukan
Yakni saat cinta menyentuh hati
Diriku larut dalam emosi
(Vanera El-Arj / 25-09-08)

Itulah sepenggal syair dari almarhum Achmad Muadzin el Zahid atau Vanera El-Arj, seorang penggiat sastra dari Wonosobo. Hari Minggu, 15 Februari 2015, Komunitas Sastra Bimalukar mengadakan acara bertajuk dzikir syair untuk mengenang meninggalnya Vanera El-Arj sekaligus launching buku antologi puisi berjudul Fragmen Jiwa (Cukupkan dengan Cinta), buah karya dari penyair-penyair Wonosobo, baik yang sudah senior maupun yang masih unyu-unyu.
Read more ...

Minggu, 18 Januari 2015

Pelajaran dari Aktivitas Minggu Pagi

Gowes Minggu Pagi
Minggu pagi paling pas buat olahraga atau bersih-bersih rumah. Minggu pagi saya kali ini saya isi dengan bersepeda ke Telaga Menjer, Wonosobo. Berhubung nggak ada temen yang bisa diajak, saya berangkat sendiri. Inilah keuntungan olahraga bersepeda. Kalo temen-temen kita lagi sibuk, kita tetep bisa olahraga. Beda sama futsal atau badminton yang butuh partner.

Jarak dari rumah saya ke Telaga Menjer lumayan jauh. Nanjak pula. Dulu pernah sekali bisa gowes sampai sana. Tapi itu dulu pas saya masih rutin olahraga. Sekarang stamina sudah banyak menurun. Jadi nggak tau apa hari ini saya bisa sampai sana atau tidak.

Pencinta gowes di Wonosobo biasanya kuat-kuat. Ini karena medan yang biasa mereka hadapi naik turun. Maklum, Wonosobo kan daerah pegunungan. Pernah dulu pas saya dan temen-temen ikutan funbike di Magelang yang notabene medannya lebih datar, kami ngacir di depan sendiri tak terbendung seolah nggak ada capeknya. Terbukti bukan? hehe.

Hari ini cuaca agak mendung, tapi sama sekali tak menyurutkan niat saya untuk bersepeda. Di awal perjalanan dari rumah sampai Garung yang berjarak sekitar 3 km dan menanjak, perjalanan lumayan mulus tanpa istrahat. Baru setelah itu, tepat di atas PLTA Garung, tanjakan ular dengan sudut kemiringan tingkat dewa memaksa saya untuk berhenti ambil nafas. Sejenak saya juga ambil foto disitu dengan kamera pocket yang saya bawa.
Tanjakan Horor di PLTA Garung
Sukses melewati tanjakan horor itu, tanjakan-tanjakan yang lain sudah menanti. Mereka seolah memanggil-manggil saya untuk segera datang. Walaupun nafas sudah lumayan terengah-engah, saya masih bersemangat untuk memenuhi “panggilan” tanjakan-tanjakan itu. Saya sempat berhenti beberapa kali untuk ambil foto. Buat dokumentasi atau bukti kalo saya beneran gowes ke Telaga Menjer pagi ini. hehe.

Untung cuaca agak mendung, jadi saya tidak begitu tersiksa. Cuma panas dan pegal-pegal yang saya rasakan di bagian otot paha dan betis. Tapi saya tidak boleh menyerah dan harus lanjut terus. Hidup adalah perjuangan! hahah.

Dan sampailah saya pada sebuah jembatan berwarna merah tepat di bawah Desa Maron, tempat dimana Telaga Menjer berada. Di situ saya berhenti sejenak. Ambil nafas sambil memandang tanjakan di depan mata yang masih menunggu. Saya mulai ragu. Kaki saya seperti membisiki saya untuk pulang saja. Saya pun minum air dan ambil foto disitu sebelum ambil keputusan. Sebuah keputusan yang akan menentukan ending cerita saya hari ini. hehe.

Finally, saya pun memutuskan untuk pulang saja, haha. Selain kaki yang terus membisiki saya untuk pulang, perut juga ikut-ikutan tidak bisa diajak untuk melanjutkan perjuangan (*alibi). Tadi pagi saya cuma sarapan selembar roti tawar dan satu buah pisang. Kan katanya pisang bagus buat atlet sepeda, untuk menguatkan otot kaki katanya. jadi saya coba menirunya.

Tak apalah hari ini saya gagal bersepeda sampai Telaga Menjer. Yang penting kan sudah berusaha. Bukannya saya menyerah lho ya. Karena saya masih ingin gowes sampai sana lagi, tapi lain waktu. Yang pasti, satu pelajaran yang saya dapat hari ini, untuk mencapai sesuatu yang indah, butuh perjuangan. Jangan gampang nyerah. Kalo pengen liat keindahan Telaga Menjer, klik di SINI. (fila174)

Butuh Perjuangan Untuk Meraih Sesuatu
Read more ...

Terima Kasih SM3T

Setelah lulus kuliah 3 tahun silam, saya sempat menganggur sebelum ada tawaran dari Bu Lik saya untuk ngajar di salah satu SMA di Wonosobo. Kebetulan, waktu itu Bu Lik saya bekerja di bagian TU sekolah itu. Katanya, ada salah seorang guru Bahasa Inggris di situ, Bu Niken namanya, yang akan kuliah S2 di Semarang selama 2 tahun. Jadi mau nggak mau, beliau harus mencari guru Bahasa Inggris baru yang akan menggantikannya ngajar selama 2 tahun itu.

Tahu saya masih belum ngajar waktu itu, Bu Lik saya langsung ngajak saya ke rumah Bu Niken. Keesokan harinya, saya dan Bu Niken langsung menemui Kepala Sekolah dan keesokan harinya lagi, saya sudah mulai mengajar. Satu semester saya menjadi pengajar di situ, banyak hal yang tadinya saya belum tahu, jadi tahu. Menjadi seorang guru honorer ternyata memang memprihatinkan (kecuali bagi yang sudah menguasai ilmu ikhlas). Untung waktu itu saya masih lanjang, jadi gaji sedikit nggak begitu masalah. Jika dibanding di sekolah lain, gaji guru honorer di SMA tempat saya ngajar itu sebenarnya masih mending karena memang bagian dari sebuah yayasan besar di Wonosobo. Tapi gaji guru honorer tetaplah gaji guru honorer. Masih di bawah pegawai kantoran, PNS, atau karyawan toko lulusan SMA sekalipun. Pokoknya selama nggak ada perbaikan nasib guru honorer di Indonesia, para Umar Bakrie ini bakalan ngenes ekonomi keluarganya. Padahal, bukankah mereka penentu kualitas generasi muda Indonesia?

Saya juga melihat sendiri bagaimana kolega-kolega saya sesama guru honorer berjuang untuk mendapatkan sertifikasi. Banyak juga yang sudah senior tapi belum mendapatkan tunjangan menggiurkan ini. Mereka masih berkutat pada portofolio persyaratan sertifikasi yang ribet dan bikin galau. Saat itu saya cuma jadi penonton karena memang belum banyak tahu soal dunia begituan. Masih dalam tahap pembelajaran gitu.

Di semester kedua saya ngajar disitu, sedikit sedikit saya mulai paham dan malah justru semakin tidak tertarik. Saya orangnya nggak suka kalo menyangkut soal administrasi yang rumit dan berbelit-belit. Bayangkan, untuk bisa dapat tunjangan sertifikasi, harus punya NUPTK. Apa itu NUPTK? Semacam penomoran gitu untuk para guru. Dan untuk bisa punya nomor itu saja, waktunya nggak sebentar. Harus ngajar dulu minimal lima tahun kalo nggak salah. Setelah itu, tidak serta merta dapat sertifikasi. Masih ada seleksi administrasi lagi. Pantesan yang senior-senior saja banyak yang belum dapat. Miris.

Saya pun berpikir, jika saya ikutan jadi pejuang pendidikan bernama guru honorer, hidup saya akan keras dan datar. Itu yang saya pikirkan waktu itu. Sampai pada satu hari dimana ada salah satu rekan guru yang honorer juga mengajak saya untuk ikutan sebuah program ngajar di pelosok negeri bernama SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal). Awalnya saya tidak langsung mengiyakan ajakannya. Jujur saat itu saya masih ragu dengan tantangan ikut program itu yang harus hidup di daerah pelosok, jauh dari kampung halaman selama satu tahun.

Setelah satu hari satu malam saya pikirkan, akhirnya saya putuskan untuk ikut. Satu per satu, mulai dari Abang, Babe, sampai Pakde semua saya ceritakan perihal rencana saya itu. Syukurlah mereka semua mendukung. Saya pun segera menemui Kepala Sekolah untuk resign sekaligus berpamitan dan minta doa restu. Yang paling saya ingat adalah saat saya harus berpamitan dengan teman-teman guru serta murid-murid saya di situ. Berat rasanya meninggalkan mereka yang sudah saya anggap sebagai keluarga.

Singkat cerita, saya pun diterima menjadi guru SM3T dan ditempatkan di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Menjadi guru SM3T selama setahun memberikan sebuah pengalaman baru untuk saya. Banyak sekali hal baru yang saya dapat. Kisah suka duka saya menjadi guru SM3T bisa kalian lihat di SINI. Jika saja dulu saya tidak memutuskan untuk ikut program ini, mungkin saya masih menjadi seorang pejuang guru honorer. Jika saja dulu saya tidak ikut program ini, mungkin saya tidak memiliki kesempatan hebat menjelajahi bumi Kalimantan. Jika saja dulu saya tidak ikut program ini, mungkin sekarang saya belum pernah merasakan 9 kali naik pesawat. hehe. Terima kasih SM3T. (fila174)

Hari Pertama Menginjakkan Kaki di Kabupaten Malinau
Read more ...

Jumat, 16 Januari 2015

Pak Menteri Blusukan di Wonosobo

Hari Kamis 15/1/2015 kemarin, Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Bapak M Hanif Dhakiri blusukan ke Desa Slukatan, Kecamatan Mojotengah, Kabupaten Wonosobo. Beliau menghadiri acara peresmian jembatan gantung Wangan Condong yang merupakan program dari Kementerian Tenaga Kerja. Jembatan sepanjang 63 meter ini telah selesai dibangun dengan menggunakan dana dari APBN dan difasilitasi oleh ILO (International Labour Organization). Selain Desa Slukatan, ada 4 desa lain yang juga mendapat bantuan pembangunan jembatan seperti ini. Keempat desa itu ada di Pandeglang, Bantul, Nganjuk dan Jombang. Dalam acara ini, hadir juga Bupati Wonosobo Bapak Abdul Kholiq Arif dan Wakil Bupati Wonosobo Ibu Maya Rosida.

Pak Hanif Dhakiri bersama Bu Maya Rosida (photo by Yudi Cahyadi)
Ada yang unik dalam acara yang juga dihadiri oleh perwakilan ILO ini. Sesaat setelah peresmian jembatan, rencananya lima sepeda motor akan melewati jembatan ini sekaligus untuk menjajal kekuatan jembatan. Kelima sepeda motor itu dikendarai oleh warga setempat. Tak mau cuma jadi penonton, tiba-tiba Pak Menteri meminta pengendara motor yang paling depan untuk turun. Beliau ternyata ingin mengetes sendiri kekuatan jembatan yang beratnya 8 ton ini. Tak mau kalah, Bupati Wonosobo juga ikut terjun langsung dengan meminta motor yang ada di urutan kedua. Tapi tiba-tiba Pak Menteri mengajak Pak Kholiq untuk membonceng motor yang dibawanya saja. Rupanya Pak Menteri berkaca mata ini tak mau naik motor sendirian. Akhirnya kedua pejabat ini pun menyeberangi jembatan berboncengan. Ratusan warga yang menonton momen menarik itu memberi tepuk tangan yang sangat meriah. Seru sekali.

Aksi Pak Menteri bersama Pak Kholiq Arif (photo from foto.metrotvnews.com)  
Setelah meresmikan dan menjajal jembatan, Pak Menteri beraksi lagi dengan mengajak pejabat-pejabat yang hadir di situ untuk menanam pohon. Mulai dari mencangkul, menanam pohon, sampai menyiraminya, beliau lakukan sendiri. Pak Kholiq, Bu Maya, dan Mrs Michiko Miyamoto (perwakilan ILO) pun tak mau ketinggalan. Mereka melakukan aksi serupa. Cuaca yang mendung dan agak gerimis tak menyurutkan semangat mereka pagi itu. Ini bukan pencitraan, tapi aksi nyata. Maju terus Pak Menteri. (fila174)

Pak Menteri Menanam Pohon (photo by Yudi Cahyadi)
Read more ...

Selasa, 06 Januari 2015

Perpanjangan SIM

Kemarin saya ke Polres Wonosobo untuk memperpanjang SIM A saya yang habis hari ini. Saya berangkat dari rumah jam 8 pagi. Kalo mau memperpanjang SIM seperti saya, yang perlu dibawa adalah KTP asli, fotokopi KTP satu saja, SIM lama dan difotokopi satu saja. Oh ya, jangan lupa bawa gadget atau buku, siapa tau ntar nunggu antrian kelamaan, jadi ada kegiatan. 

Begitu sampai Polres, hal pertama yang mesti dilakukan adalah cek kesehatan. Kemarin saya mengantri dari jam setengah sembilan sampai setengah sepuluh karena yang cek kesehatan hari itu banyak banget. Tempat untuk cek kesehatan di sini juga lumayan sempit, jadi kami harus berdesak-desakan. Begitu nama saya dipanggil, saya langsung diukur berat dan tinggi badan. Setelah itu, saya disuruh masuk ke ruangan lain untuk tes kesehatan mata apakah saya buta warna atau tidak. Di sini saya disuruh membayar Rp 25.000,-. Setelah itu, saya disuruh membayar lagi sebesar Rp 31.000,- untuk biaya asuransi. Jadi, di tempat cek kesehatan, saya sudah harus merogoh kocek sebesar Rp 56.000,-. Jika satu orang saja sebesar itu, padahal dalam satu hari mungkin ada ratusan orang yang harus cek kesehatan, harusnya pihak Polres bisa meningkatkan pelayanannya. Dari jaman saya SMA dulu pas bikin SIM C sampai sekarang, pelayanan cek kesehatan belum mengalami peningkatan.

Tempat untuk Cek Kesehatan Polres Wonosobo
Setelah cek kesehatan, saya langsung mengambil formulir permohonan perpanjangan SIM. Setelah formulir saya isi dan saya kumpulkan, saya harus menunggu dari jam setengah sepuluh sampai setengah sebelas sebelum akhirnya nama saya dipanggil. Kali ini saya disuruh membayar uang sebesar Rp 80.000,- di kantor BRI yang berada tepat di sebelah Polres Wonosobo. Setelah itu, saya harus mengantri lagi menunggu giliran untuk difoto. Sekitar jam 11 nama saya dipanggil untuk difoto dan kurang lebih 10 menit setelah itu, SIM saya jadi dan bisa diambil. Total biaya yang harus saya keluarkan untuk perpanjangan SIM A di Polres Wonosobo adalah sebesar Rp 136.000,-. For your information, kalo perpanjangan SIM C cuma beda Rp 5.000,- lebih murah.

Tempat untuk Membuat SIM Polres Wonosobo
Read more ...

Rabu, 31 Desember 2014

Kebetulan yang Tidak Jadi

Hari ini Rabu, tanggal 31 Desember 2014. Sudah beberapa hari ini daerah tempat tinggalku tidak pernah cerah. Kalo pagi sudah mendung, kalo sore sampe malam hujan pasti turun. Pagi tadi akhirnya aku solat subuh berjamaah di mushola deket rumah. Setelah itu aku liat-liat berita jatuhnya pesawat Air Asia yang lagi hangat-hangatnya di TV. Tapi kali ini aku tidak akan nulis tentang musibah itu.

Cuaca Mendung di Wonosobo
Hari ini sebenarnya aku berencana pergi ke Jogja. Bukan untuk hura-hura ngerayain tahun baru seperti jamanku masih kuliah dulu. Kebetulan dua sahabat lamaku dari Tegal dan Purworejo katanya hari ini mau ke Jogja, jadi aku berencana ketemu mereka di sana. Mereka adalah teman satu kos yang pernah hidup sama-sama sekitar tiga tahun lebih. Sudah sekitar tiga tahun juga aku tidak ketemu mereka. 

Read more ...

Kamis, 27 November 2014

Masuk Website UNY

Ceritaku menjadi guru SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Tertinggal, Terluar) di Kalimantan akhirnya masuk website UNY. Sebelumnya sudah ada mbak Zulfiana Alia dan mbak Amin Fitriyah, SM3T UNY angkatan III penempatan Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Utara yang ceritanya dimuat di website UNY. Baca selengkapnya di SINI. Baca juga ceritanya mas Anung Winahyu
Read more ...

Senin, 03 November 2014

Seorang Fans Emyu Tadi Malam

Sejak aku masih kelas 1 SMP tahun 1999 (tua banget berarti ya, hiks hiks), aku sudah jadi gibol alias penggila bola. Klub sepakbola yang aku dukung adalah Manchester United. Sampe sekarang, aku selalu berusaha untuk nonton tiap laga yang dilakoni emyu, gimanapun caranya. Dulu liga Inggris sempet ditayangin di SCTV, terus TV7 (Sekarang jadi Trans7), TvOne, MNCTV dan GlobalTV,  dan sekarang di Indosiar dan SCTV (walopun cuma dua pertandingan sepekan).

Fans Manchester United
Tadi malem ada laga seru emyu ketemu City, tapi sayang gak disiarin TV lokal. Untung, aku punya Pakde di Kalibeber yang pasang OrangeTV. Jadi, musim ini kalo emyu main tapi gak disiarin TV lokal, aku sering nonton di tempat Pakde. Kebetulan anaknya Pakde yang laki-laki, namanya Alef, juga fans emyu. Aku ke tempat Pakde jam setengah 8 bareng adikku. Dia juga fans emyu. Dua kakakku juga fans emyu, jadi keluargaku fans emyu semua hahaha.

Read more ...

Minggu, 26 Oktober 2014

EduTalk "Berbagi Inspirasi Wujudkan Aksi"

Terima kasih buat Mbakyu BloggerGo Lokal Magazine, dan Koran Wonosobo Express yang sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi cerita hari Jumat kemarin. It was a nice day. Oya, selamat buat Wonosobo Express yang sekarang punya kantor baru di Karangkajen Sruni No 112 Wonosobo (sebelum Dieng Cinema), semoga semakin jaya dan memberikan manfaat khususnya bagi warga Wonosobo. 

EduTalk, diskusi seputar Pendidikan
Jumat, 24 Oktober 2014, Mbakyu Blogger dan Go Lokal Magazine menggelar event EduTalk di kantor baru Wonosobo Express. Yang datang banyak lho, ada temen-temen dari Stand Up Comedy Wonosobo, Komunitas sastra Bimalukar, Tim Togastory, Ekskul Jurnalistik Spensa, PPL KPI UNSIQ 2014, Perwakilan guru, mahasiswa, pelajar, serta komunitas lokal lainnya yang ada di Wonosobo. Terima kasih juga untuk Ibu Eko Hastuti yang sudah rawuh. Beliau adalah guru saya waktu masih SMP dulu. 

Event seperti ini bagus sekali untuk perkembangan kota Wonosobo. Yang tua bisa berbagi pengalaman dan yang muda bisa berbagi ide, atau sebaliknya. Semoga ke depan semakin banyak diadakan event-event seperti ini di Wonosobo dan semakin banyak komunitas yang ikut berpartisipasi. Amin. 

GoLokal Magazine, Mbakyu Blogger, dan Wonosobo Express
Read more ...

Senin, 06 Oktober 2014

Selamat Hari Raya Idul Adha 1435 H

Alhamdulillah kemarin merayakan hari raya idul Adha lagi bersama warga kampung setelah tahun lalu beridul Adha secara sangat sederhana di pulau seberang. Alhamdulillah dusun kami mengurbankan dua ekor sapi dan tiga ekor kambing tahun ini. Setelah selesai melaksanakan solat Id bersama-sama di masjid, warga mulai menyembelih hewan kurban sekitar jam 8 pagi dan selesai dibagi-bagikan sekitar jam 12 siang.

Di rumah, aku dan dua saudaraku mengolah sebagaian daging yang kami dapat menjadi sate. Sebelum dipanggang, daging kami rendam di air nanas agar dagingnya menjadi empuk. Tusuk sate juga kami rendam dulu dalam air agar tidak mudah patah saat kena api. Alhamdulillah sekitar jam 4 sore, kami sudah menikmati daging sate. Selamat hari raya Idul Adha 1435 H. 

Sapi Siap Untuk Disembelih
Sibuk Menguliti Kambing
Sapi Hampir Selesai Dikuliti
Sapi dan Kambingnya Sudah Jadi Sate :D
Read more ...

Minggu, 05 Oktober 2014

Idul Adha Tahun Lalu

Hari ini adalah hari raya Idul Adha 1435 H. Aku teringat Idul Adha tahun lalu di mana aku masih di Desa Long Pada, Kabupaten Malinau. Di sana semua warganya beragama Kristen Protestan. Selain guru-guru SM-3T, ada satu muslim lagi yaitu Bu Wilda, guru kontrak daerah yang ditugaskan di sana.

Saat malam Idul Adha tahun lalu, Bu Wilda mengundang guru-guru SM-3T dan beberapa warga untuk makan bersama di Pustu (Puskesmas Pembantu) Kecamatan Sungai Tubu yang juga menjadi tempat tinggal Bu Wilda selama di Desa Long Pada. Menu saat itu adalah rica-rica ayam. Meski tidak ada daging kambing atau sapi, kami sangat bersyukur karena masih bisa merayakan hari raya Idul Adha di tengah perbedaaan dan keterbatasan.

Rica-rica Ayam 
Bu Wilda (paling kiri), guru SM-3T, dan Warga Makan Bersama
Read more ...

Jumat, 19 September 2014

Akhirnya Berhasil Daftar

Hari Selasa kemarin, aku daftar tes CPNS di Kemdikbud melalui portal panselnas.menpan. Aku sempat ngira sepertinya aku gagal daftar karena tidak langsung dapat email balasan yang isinya ada username dan password untuk login di web instansi yang dipilih. Mungkin proses daftarnya gagal karena koneksi Internet punyaku payah. Saat aku coba daftar lagi, ada tulisan "NIK tidak dapat digunakan." Sampai hari Kamis, aku terus nyoba daftar lagi, tapi tetap saja ada tulisan itu. Aku juga terus membuka emailku, tapi tetap saja email balasan yang aku tunggu tidak ada, macam nunggu balasan surat dari pacar saja haha.. Kamis malam aku kirim email pengaduan, tapi tetap saja no respond. Maklum, yang sudah ngirim email serupa katanya ada sekitar 150 ribu pendaftar. 

Bermacam cara aku coba, termasuk langsung login di web Kemdikbud dengan username nomor NIK-ku dan password ******. Aku sempat hampir nyerah karena hari Jumatnya adalah hari terakhir pendaftaran di web itu. Jumat sekitar pukul 2 dini hari, saat mata sudah merem melek, kucoba login lagi tapi dengan password huruf kapital, dan BERHASIL!!! Akupun mem-pending tidur dan langsung melakukan proses registrasi dengan melengkapi data pendaftar. Mungkin karena yang sedang mengakses web itu luar biasa banyak, proses registrasi berjalan lambat. Sekitar pukul 6 pagi, aku baru selesai melakukan proses registrasi dan tinggal mencetak kartu peserta ujian saja. 

Kartu Peserta Ujianku
Read more ...

Kamis, 11 September 2014

Kini Masuk Harian Suara Merdeka

Kemarin aku ngurus perpanjangan STNK motorku di Samsat Wonosobo. Sambil nunggu antrian, aku duduk di tempat duduk yang sudah disediakan sambil ndengerin musik dari hapeku, Di dekat tempat aku duduk, ada sebuah tempat koran dimana disitu ada beberapa koran edisi hari itu. Sebenarnya aku mencari koran Wonosobo Express edisi hari sebelumnya karena di situ ada ulasan tentang diriku, seperti yang ada di Tribun Jogja, tapi karena yang aku cari tidak ada, aku iseng baca harian Suara Merdeka sambil berpikir barangkali di situ ada ulasan tentang aku juga hehe. Baru aku buka halaman dua, di situ ada sebuah artikel berjudul "Dua Hari Susuri Sungai, Keluar Masuk Hutan", lalu aku baca dan ternyata itu memang tentang aku lagi haha. Aku langsung mengambil kamera yang ada di tas ranselku dan meng-capture artikel itu. Karena antrian masih lumayan panjang, aku keluar mencari penjual koran untuk membeli koran itu.

Harian Suara Merdeka Edisi Rabu, 10 September 2014
Read more ...

Rabu, 10 September 2014

Masuk Tribun Jogja

Kemarin beberapa temenku ngasih kabar kalo namaku ada di koran Tribun Jogja. "Kae lho ceritamu ono ning koran", begitu pesan salah satu kawan yang juga SM-3T di Kabupaten Malinau. Aku pun langsung buka Internet dan ngebaca beritanya di situs Tribun Jogja. Ini adalah pertama kalinya aku masuk koran dan semoga bukan yang terakhir kalinya. Semoga bisa masuk koran lagi dengan cerita hebat yang lain.

Tribun Jogja edisi Selasa, 9 September 2014
Read more ...

Senin, 25 Agustus 2014

Festival Ragam Budaya Kabupaten Malinau

Dalam rangka HUT RI ke-69, SM-3T III dari UNY dan UM mengadakan event ragam budaya yang diselenggarakan pada hari Senin, 18 Agustus 2014 di Kabupaten Malinau. Acara yang dibuka secara langsung oleh Bupati Malinau, Drs. Yansen TP MSi ini diikuti oleh ratusan siswa dari beberapa SMP dan SMA sekabupaten Malinau. Selain mengenakan pakaian adat Dayak, banyak peserta yang juga mengenakan pakaian adat dari luar Kalimantan seperti Jawa, Bugis, dan Papua. Pakaian adat Dayak sendiri terdiri dari beberapa macam, diantaranya adalah Dayak Kenyah, Lundayeh, Tidung, dan Punan.
Peserta Festival Ragam Budaya
Bupati Malinau Saat Memberikan Aba-aba Start
Peserta dari SMPN 1 Malinau Selatan Hilir
Peserta di Depan Tugu Gerdema (Gerakan Desa Membangun)

Tarian Adat Suku Dayak
Panitia Festival Ragam Budaya

Read more ...

Jumat, 19 April 2013

Suatu Sore di Sekolah


Salah satu murid saya berasal dari Jambi, sebut saja Mawar (nama samaran). Dia lahir di Temanggung, namun di usia 3 tahun, dia dibawa orang tuanya ke Jambi. Setelah lulus SD, dia melanjutkan sekolahnya ke sebuah SMP di Wonosobo sekaligus masuk ke sebuah pesantren. Setelah lulus SMP, dia melanjutkan ke sebuah SMA di Wonosobo tempat dimana saya mengajar. Sekarang dia duduk di kelas XI jurusan IPA. Nilai Bahasa Inggris dan Bahasa Arabnya bagus. Dia juga beberapa kali ikut lomba seperti lomba pidato dan story-telling Bahasa Inggris dan lomba menulis dan membaca puisi. Dari sini, saya tahu kalau dia berbakat di bidang bahasa dan sastra.

Beberapa hari yang lalu sekitar jam 2 siang ketika semua murid dan guru sudah pulang, saya masih duduk sendiri di lab bahasa sambil menunggu gerimis reda. Lalu datang si Mawar dan menghampiri saya. Katanya mau mengambil kumpulan puisi yang sudah dia buat, namun tidak jadi karena ruang sastra dimana puisi-puisi itu disimpan telah dikunci. Saya suruh dia duduk dan saya ajak untuk mengobrol.

Mawar banyak bercerita tentang dirinya, saya hanya beberapa kali melempar pertanyaan. Ternyata dugaan saya benar, dia memang tertarik di bidang bahasa dan sastra. Namun pihak sekolah dan orang tuanya menyuruh dia untuk masuk IPA. Dia juga bercerita kalau nilai-nilai dia di pelajaran-pelajaran IPA seperti Matematika, Fisika, dan Kimia biasa-biasa saja, tapi nilai dia di pelajaran-pelajaran bahasa selalu bagus. Dia memang tidak tertarik dengan pelajaran hitung menghitung. Dia bilang kalau dia ingin belajar dengan hati, belajar apa yang dia ingin pelajari, belajar yang bisa membuatnya menikmati proses belajar. Dan itu adalah belajar bahasa dan sastra (Indonesia, Inggris, dan Arab).

Mungkin ini bisa jadi masukan bagus untuk pendidikan di Indonesia. Jika seorang murid yang sejak SMP bahkan SD sudah fokus belajar apa yang dia minati, maka mungkin pendidikan di negeri ini akan lebih baik. Saya adalah seorang guru Bahasa Inggris, namun dulu waktu SMP dan SMA, saya belajar ini itu termasuk Fisika, Biologi, Akuntansi, Geografi, dsb yang saat ini saya tidak tahu apakah itu bermanfaat atau tidak untuk saya dimana saya sudah terjun di masyarakat. Toh, saya sudah lupa sama sekali pelajaran-pelajaran itu karena memang tidak saya aplikasikan. Jika sejak SD atau SMP saya sudah fokus belajar Bahasa Inggris, mungkin saat ini kemampuan saya dalam berbahasa Inggris lebih baik dari sekarang.

Kembali ke cerita si Mawar. Dia bilang kalau sejak SMP dia sudah punya rencana untuk masuk kelas Bahasa di SMA. Dia juga ingin melanjutkan sekolah di bidang bahasa dan sastra setelah lulus SMA. Sejak datang ke pesantren 5 tahun yang lalu, dia sama sekali belum pernah pulang ke Jambi. Dia bilang kalau dia tidak mau pulang kalau belum membawa apa-apa yang bisa dibanggakan. Di Wonosobo, dia tidak punya sanak saudara, hanya adik kandungnya yang masih duduk di kelas 1 SMP yang juga mondok di pesantren yang sama.

Saya coba untuk memancing dia dengan pertanyaan apa yang ingin dia bawa jika dia pulang ke Jambi nanti. Lalu dia bercerita salah satu yang sedang dia lakukan saat ini adalah menghafal Al Qur’an. Namun saat saya tanya sekarang sudah dapat berapa juz, dia tidak mau menjawab. Dia bilang kalau dia tidak pernah cerita pada siapapun dia sudah dapat berapa juz, sampai dia sudah hafal 30 juz.

Dia punya rencana untuk kuliah di luar negeri dan kebetulan orang tuanya mendukung. Dia bilang kalau orang tuanya sebenarnya bukan dari kalangan orang berduit namun ayahnya punya beberapa keluarga dan relasi yang bisa membantunya untuk menyekolahkan anaknya di luar negeri. Namun Mawar ingin kuliah dengan mencari beasiswa. Sebenarnya ketika lulus SMP dulu, orang tuanya sudah akan menyekolahkan dia di luar negeri, namun dia tidak mau karena walaupun ingin sekolah di luar negeri, dia tidak ingin memakai duit orang tuanya.

Sebenarnya saya sangat menikmati obrolan itu, mendengar semua cerita si Mawar. Namun  saat itu sudah jam 3 sore, gerimis sudah reda, dan saya harus mengajar di tempat lain sore itu juga. Sebelum saya pulang, saya menutup semua jendela lab bahasa yang masih terbuka dan Mawar melihat-lihat isi mading sekolah yang mungkin ada beberapa karyanya yang dipajang di situ.  
Read more ...