Salah satu
murid saya berasal dari Jambi, sebut saja Mawar (nama samaran). Dia lahir di
Temanggung, namun di usia 3 tahun, dia dibawa orang tuanya ke Jambi. Setelah
lulus SD, dia melanjutkan sekolahnya ke sebuah SMP di Wonosobo sekaligus masuk
ke sebuah pesantren. Setelah lulus SMP, dia melanjutkan ke sebuah SMA di
Wonosobo tempat dimana saya mengajar. Sekarang dia duduk di kelas XI jurusan IPA.
Nilai Bahasa Inggris dan Bahasa Arabnya bagus. Dia juga beberapa kali ikut
lomba seperti lomba pidato dan story-telling Bahasa Inggris dan lomba menulis
dan membaca puisi. Dari sini, saya tahu kalau dia berbakat di bidang bahasa dan
sastra.
Beberapa
hari yang lalu sekitar jam 2 siang ketika semua murid dan guru sudah pulang,
saya masih duduk sendiri di lab bahasa sambil menunggu gerimis reda. Lalu
datang si Mawar dan menghampiri saya. Katanya mau mengambil kumpulan puisi yang
sudah dia buat, namun tidak jadi karena ruang sastra dimana puisi-puisi itu
disimpan telah dikunci. Saya suruh dia duduk dan saya ajak untuk mengobrol.
Mawar banyak
bercerita tentang dirinya, saya hanya beberapa kali melempar pertanyaan.
Ternyata dugaan saya benar, dia memang tertarik di bidang bahasa dan sastra.
Namun pihak sekolah dan orang tuanya menyuruh dia untuk masuk IPA. Dia juga
bercerita kalau nilai-nilai dia di pelajaran-pelajaran IPA seperti Matematika,
Fisika, dan Kimia biasa-biasa saja, tapi nilai dia di pelajaran-pelajaran
bahasa selalu bagus. Dia memang tidak tertarik dengan pelajaran hitung
menghitung. Dia bilang kalau dia ingin belajar dengan hati, belajar apa yang
dia ingin pelajari, belajar yang bisa membuatnya menikmati proses belajar. Dan
itu adalah belajar bahasa dan sastra (Indonesia, Inggris, dan Arab).
Mungkin ini
bisa jadi masukan bagus untuk pendidikan di Indonesia. Jika seorang murid yang sejak
SMP bahkan SD sudah fokus belajar apa yang dia minati, maka mungkin pendidikan
di negeri ini akan lebih baik. Saya adalah seorang guru Bahasa Inggris, namun
dulu waktu SMP dan SMA, saya belajar ini itu termasuk Fisika, Biologi,
Akuntansi, Geografi, dsb yang saat ini saya tidak tahu apakah itu bermanfaat
atau tidak untuk saya dimana saya sudah terjun di masyarakat. Toh,
saya sudah lupa sama sekali pelajaran-pelajaran itu karena memang tidak saya
aplikasikan. Jika sejak SD atau SMP saya sudah fokus belajar Bahasa Inggris,
mungkin saat ini kemampuan saya dalam berbahasa Inggris lebih baik dari
sekarang.
Kembali ke
cerita si Mawar. Dia bilang kalau sejak SMP dia sudah punya rencana untuk masuk
kelas Bahasa di SMA. Dia juga ingin melanjutkan sekolah di bidang bahasa dan
sastra setelah lulus SMA. Sejak datang ke pesantren 5 tahun yang lalu, dia sama sekali belum
pernah pulang ke Jambi. Dia bilang kalau dia tidak mau pulang kalau belum
membawa apa-apa yang bisa dibanggakan. Di Wonosobo, dia tidak punya sanak
saudara, hanya adik kandungnya yang masih duduk di kelas 1 SMP yang juga mondok
di pesantren yang sama.
Saya coba
untuk memancing dia dengan pertanyaan apa yang ingin dia bawa jika dia pulang
ke Jambi nanti. Lalu dia bercerita salah satu yang sedang dia lakukan saat ini
adalah menghafal Al Qur’an. Namun saat saya tanya sekarang sudah dapat berapa
juz, dia tidak mau menjawab. Dia bilang kalau dia tidak pernah cerita pada siapapun
dia sudah dapat berapa juz, sampai dia sudah hafal 30 juz.
Dia punya rencana untuk kuliah di luar negeri dan kebetulan orang tuanya
mendukung. Dia bilang kalau orang tuanya sebenarnya bukan dari kalangan orang
berduit namun ayahnya punya beberapa keluarga dan relasi yang bisa membantunya
untuk menyekolahkan anaknya di luar negeri. Namun Mawar ingin kuliah dengan
mencari beasiswa. Sebenarnya ketika lulus SMP dulu, orang tuanya sudah akan
menyekolahkan dia di luar negeri, namun dia tidak mau karena walaupun
ingin sekolah di luar negeri, dia tidak ingin memakai duit orang tuanya.
Sebenarnya
saya sangat menikmati obrolan itu, mendengar semua cerita si Mawar. Namun saat itu sudah jam 3 sore, gerimis sudah
reda, dan saya harus mengajar di tempat lain sore itu juga. Sebelum saya pulang,
saya menutup semua jendela lab bahasa yang masih terbuka dan Mawar
melihat-lihat isi mading sekolah yang mungkin ada beberapa karyanya yang
dipajang di situ.
Read more ...