Minggu, 18 Januari 2015

Terima Kasih SM3T

Setelah lulus kuliah 3 tahun silam, saya sempat menganggur sebelum ada tawaran dari Bu Lik saya untuk ngajar di salah satu SMA di Wonosobo. Kebetulan, waktu itu Bu Lik saya bekerja di bagian TU sekolah itu. Katanya, ada salah seorang guru Bahasa Inggris di situ, Bu Niken namanya, yang akan kuliah S2 di Semarang selama 2 tahun. Jadi mau nggak mau, beliau harus mencari guru Bahasa Inggris baru yang akan menggantikannya ngajar selama 2 tahun itu.

Tahu saya masih belum ngajar waktu itu, Bu Lik saya langsung ngajak saya ke rumah Bu Niken. Keesokan harinya, saya dan Bu Niken langsung menemui Kepala Sekolah dan keesokan harinya lagi, saya sudah mulai mengajar. Satu semester saya menjadi pengajar di situ, banyak hal yang tadinya saya belum tahu, jadi tahu. Menjadi seorang guru honorer ternyata memang memprihatinkan (kecuali bagi yang sudah menguasai ilmu ikhlas). Untung waktu itu saya masih lanjang, jadi gaji sedikit nggak begitu masalah. Jika dibanding di sekolah lain, gaji guru honorer di SMA tempat saya ngajar itu sebenarnya masih mending karena memang bagian dari sebuah yayasan besar di Wonosobo. Tapi gaji guru honorer tetaplah gaji guru honorer. Masih di bawah pegawai kantoran, PNS, atau karyawan toko lulusan SMA sekalipun. Pokoknya selama nggak ada perbaikan nasib guru honorer di Indonesia, para Umar Bakrie ini bakalan ngenes ekonomi keluarganya. Padahal, bukankah mereka penentu kualitas generasi muda Indonesia?

Saya juga melihat sendiri bagaimana kolega-kolega saya sesama guru honorer berjuang untuk mendapatkan sertifikasi. Banyak juga yang sudah senior tapi belum mendapatkan tunjangan menggiurkan ini. Mereka masih berkutat pada portofolio persyaratan sertifikasi yang ribet dan bikin galau. Saat itu saya cuma jadi penonton karena memang belum banyak tahu soal dunia begituan. Masih dalam tahap pembelajaran gitu.

Di semester kedua saya ngajar disitu, sedikit sedikit saya mulai paham dan malah justru semakin tidak tertarik. Saya orangnya nggak suka kalo menyangkut soal administrasi yang rumit dan berbelit-belit. Bayangkan, untuk bisa dapat tunjangan sertifikasi, harus punya NUPTK. Apa itu NUPTK? Semacam penomoran gitu untuk para guru. Dan untuk bisa punya nomor itu saja, waktunya nggak sebentar. Harus ngajar dulu minimal lima tahun kalo nggak salah. Setelah itu, tidak serta merta dapat sertifikasi. Masih ada seleksi administrasi lagi. Pantesan yang senior-senior saja banyak yang belum dapat. Miris.

Saya pun berpikir, jika saya ikutan jadi pejuang pendidikan bernama guru honorer, hidup saya akan keras dan datar. Itu yang saya pikirkan waktu itu. Sampai pada satu hari dimana ada salah satu rekan guru yang honorer juga mengajak saya untuk ikutan sebuah program ngajar di pelosok negeri bernama SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal). Awalnya saya tidak langsung mengiyakan ajakannya. Jujur saat itu saya masih ragu dengan tantangan ikut program itu yang harus hidup di daerah pelosok, jauh dari kampung halaman selama satu tahun.

Setelah satu hari satu malam saya pikirkan, akhirnya saya putuskan untuk ikut. Satu per satu, mulai dari Abang, Babe, sampai Pakde semua saya ceritakan perihal rencana saya itu. Syukurlah mereka semua mendukung. Saya pun segera menemui Kepala Sekolah untuk resign sekaligus berpamitan dan minta doa restu. Yang paling saya ingat adalah saat saya harus berpamitan dengan teman-teman guru serta murid-murid saya di situ. Berat rasanya meninggalkan mereka yang sudah saya anggap sebagai keluarga.

Singkat cerita, saya pun diterima menjadi guru SM3T dan ditempatkan di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Menjadi guru SM3T selama setahun memberikan sebuah pengalaman baru untuk saya. Banyak sekali hal baru yang saya dapat. Kisah suka duka saya menjadi guru SM3T bisa kalian lihat di SINI. Jika saja dulu saya tidak memutuskan untuk ikut program ini, mungkin saya masih menjadi seorang pejuang guru honorer. Jika saja dulu saya tidak ikut program ini, mungkin saya tidak memiliki kesempatan hebat menjelajahi bumi Kalimantan. Jika saja dulu saya tidak ikut program ini, mungkin sekarang saya belum pernah merasakan 9 kali naik pesawat. hehe. Terima kasih SM3T. (fila174)

Hari Pertama Menginjakkan Kaki di Kabupaten Malinau

Tidak ada komentar:

Posting Komentar