Setelah
lulus kuliah 3 tahun silam, saya sempat menganggur sebelum ada tawaran dari Bu Lik
saya untuk ngajar di salah satu SMA di Wonosobo. Kebetulan, waktu itu Bu Lik
saya bekerja di bagian TU sekolah itu. Katanya, ada salah seorang guru Bahasa
Inggris di situ, Bu Niken namanya, yang akan kuliah S2 di Semarang selama 2
tahun. Jadi mau nggak mau, beliau harus mencari guru Bahasa Inggris baru yang
akan menggantikannya ngajar selama 2 tahun itu.
Tahu
saya masih belum ngajar waktu itu, Bu Lik saya langsung ngajak saya ke rumah Bu
Niken. Keesokan harinya, saya dan Bu Niken langsung menemui Kepala Sekolah dan
keesokan harinya lagi, saya sudah mulai mengajar. Satu semester saya menjadi pengajar
di situ, banyak hal yang tadinya saya belum tahu, jadi tahu. Menjadi seorang
guru honorer ternyata memang memprihatinkan (kecuali bagi yang sudah menguasai
ilmu ikhlas). Untung waktu itu saya masih lanjang, jadi gaji sedikit nggak
begitu masalah. Jika dibanding di sekolah lain, gaji guru honorer di SMA tempat
saya ngajar itu sebenarnya masih mending karena memang bagian dari sebuah
yayasan besar di Wonosobo. Tapi gaji guru honorer tetaplah gaji guru honorer.
Masih di bawah pegawai kantoran, PNS, atau karyawan toko lulusan SMA sekalipun.
Pokoknya selama nggak ada perbaikan nasib guru honorer di Indonesia, para Umar
Bakrie ini bakalan ngenes ekonomi
keluarganya. Padahal, bukankah mereka penentu kualitas generasi muda Indonesia?
Saya
juga melihat sendiri bagaimana kolega-kolega saya sesama guru honorer berjuang
untuk mendapatkan sertifikasi. Banyak juga yang sudah senior tapi belum
mendapatkan tunjangan menggiurkan ini. Mereka masih berkutat pada portofolio
persyaratan sertifikasi yang ribet dan bikin galau. Saat itu saya cuma jadi
penonton karena memang belum banyak tahu soal dunia begituan. Masih dalam tahap
pembelajaran gitu.
Di
semester kedua saya ngajar disitu, sedikit sedikit saya mulai paham dan malah
justru semakin tidak tertarik. Saya orangnya nggak suka kalo menyangkut soal
administrasi yang rumit dan berbelit-belit. Bayangkan, untuk bisa dapat
tunjangan sertifikasi, harus punya NUPTK. Apa itu NUPTK? Semacam penomoran gitu
untuk para guru. Dan untuk bisa punya nomor itu saja, waktunya nggak sebentar.
Harus ngajar dulu minimal lima tahun kalo nggak salah. Setelah itu, tidak serta
merta dapat sertifikasi. Masih ada seleksi administrasi lagi. Pantesan yang
senior-senior saja banyak yang belum dapat. Miris.
Saya
pun berpikir, jika saya ikutan jadi pejuang pendidikan bernama guru honorer,
hidup saya akan keras dan datar. Itu yang saya pikirkan waktu itu. Sampai pada
satu hari dimana ada salah satu rekan guru yang honorer juga mengajak saya
untuk ikutan sebuah program ngajar di pelosok negeri bernama SM3T (Sarjana
Mengajar di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal). Awalnya saya tidak langsung
mengiyakan ajakannya. Jujur saat itu saya masih ragu dengan tantangan ikut
program itu yang harus hidup di daerah pelosok, jauh dari kampung halaman
selama satu tahun.
Setelah
satu hari satu malam saya pikirkan, akhirnya saya putuskan untuk ikut. Satu per
satu, mulai dari Abang, Babe, sampai Pakde semua saya ceritakan perihal rencana
saya itu. Syukurlah mereka semua mendukung. Saya pun segera menemui Kepala
Sekolah untuk resign sekaligus
berpamitan dan minta doa restu. Yang paling saya ingat adalah saat saya harus
berpamitan dengan teman-teman guru serta murid-murid saya di situ. Berat
rasanya meninggalkan mereka yang sudah saya anggap sebagai keluarga.
Singkat
cerita, saya pun diterima menjadi guru SM3T dan ditempatkan di Kabupaten
Malinau, Kalimantan Utara. Menjadi guru SM3T selama setahun memberikan sebuah pengalaman
baru untuk saya. Banyak sekali hal baru yang saya dapat. Kisah suka duka saya
menjadi guru SM3T bisa kalian lihat di SINI. Jika saja dulu saya tidak
memutuskan untuk ikut program ini, mungkin saya masih menjadi seorang pejuang
guru honorer. Jika saja dulu saya tidak ikut program ini, mungkin saya tidak
memiliki kesempatan hebat menjelajahi bumi Kalimantan. Jika saja dulu saya
tidak ikut program ini, mungkin sekarang saya belum pernah merasakan 9 kali
naik pesawat. hehe. Terima kasih SM3T. (fila174)
![]() |
| Hari Pertama Menginjakkan Kaki di Kabupaten Malinau |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar