Jumat, 19 April 2013

Suatu Sore di Sekolah


Salah satu murid saya berasal dari Jambi, sebut saja Mawar (nama samaran). Dia lahir di Temanggung, namun di usia 3 tahun, dia dibawa orang tuanya ke Jambi. Setelah lulus SD, dia melanjutkan sekolahnya ke sebuah SMP di Wonosobo sekaligus masuk ke sebuah pesantren. Setelah lulus SMP, dia melanjutkan ke sebuah SMA di Wonosobo tempat dimana saya mengajar. Sekarang dia duduk di kelas XI jurusan IPA. Nilai Bahasa Inggris dan Bahasa Arabnya bagus. Dia juga beberapa kali ikut lomba seperti lomba pidato dan story-telling Bahasa Inggris dan lomba menulis dan membaca puisi. Dari sini, saya tahu kalau dia berbakat di bidang bahasa dan sastra.

Beberapa hari yang lalu sekitar jam 2 siang ketika semua murid dan guru sudah pulang, saya masih duduk sendiri di lab bahasa sambil menunggu gerimis reda. Lalu datang si Mawar dan menghampiri saya. Katanya mau mengambil kumpulan puisi yang sudah dia buat, namun tidak jadi karena ruang sastra dimana puisi-puisi itu disimpan telah dikunci. Saya suruh dia duduk dan saya ajak untuk mengobrol.

Mawar banyak bercerita tentang dirinya, saya hanya beberapa kali melempar pertanyaan. Ternyata dugaan saya benar, dia memang tertarik di bidang bahasa dan sastra. Namun pihak sekolah dan orang tuanya menyuruh dia untuk masuk IPA. Dia juga bercerita kalau nilai-nilai dia di pelajaran-pelajaran IPA seperti Matematika, Fisika, dan Kimia biasa-biasa saja, tapi nilai dia di pelajaran-pelajaran bahasa selalu bagus. Dia memang tidak tertarik dengan pelajaran hitung menghitung. Dia bilang kalau dia ingin belajar dengan hati, belajar apa yang dia ingin pelajari, belajar yang bisa membuatnya menikmati proses belajar. Dan itu adalah belajar bahasa dan sastra (Indonesia, Inggris, dan Arab).

Mungkin ini bisa jadi masukan bagus untuk pendidikan di Indonesia. Jika seorang murid yang sejak SMP bahkan SD sudah fokus belajar apa yang dia minati, maka mungkin pendidikan di negeri ini akan lebih baik. Saya adalah seorang guru Bahasa Inggris, namun dulu waktu SMP dan SMA, saya belajar ini itu termasuk Fisika, Biologi, Akuntansi, Geografi, dsb yang saat ini saya tidak tahu apakah itu bermanfaat atau tidak untuk saya dimana saya sudah terjun di masyarakat. Toh, saya sudah lupa sama sekali pelajaran-pelajaran itu karena memang tidak saya aplikasikan. Jika sejak SD atau SMP saya sudah fokus belajar Bahasa Inggris, mungkin saat ini kemampuan saya dalam berbahasa Inggris lebih baik dari sekarang.

Kembali ke cerita si Mawar. Dia bilang kalau sejak SMP dia sudah punya rencana untuk masuk kelas Bahasa di SMA. Dia juga ingin melanjutkan sekolah di bidang bahasa dan sastra setelah lulus SMA. Sejak datang ke pesantren 5 tahun yang lalu, dia sama sekali belum pernah pulang ke Jambi. Dia bilang kalau dia tidak mau pulang kalau belum membawa apa-apa yang bisa dibanggakan. Di Wonosobo, dia tidak punya sanak saudara, hanya adik kandungnya yang masih duduk di kelas 1 SMP yang juga mondok di pesantren yang sama.

Saya coba untuk memancing dia dengan pertanyaan apa yang ingin dia bawa jika dia pulang ke Jambi nanti. Lalu dia bercerita salah satu yang sedang dia lakukan saat ini adalah menghafal Al Qur’an. Namun saat saya tanya sekarang sudah dapat berapa juz, dia tidak mau menjawab. Dia bilang kalau dia tidak pernah cerita pada siapapun dia sudah dapat berapa juz, sampai dia sudah hafal 30 juz.

Dia punya rencana untuk kuliah di luar negeri dan kebetulan orang tuanya mendukung. Dia bilang kalau orang tuanya sebenarnya bukan dari kalangan orang berduit namun ayahnya punya beberapa keluarga dan relasi yang bisa membantunya untuk menyekolahkan anaknya di luar negeri. Namun Mawar ingin kuliah dengan mencari beasiswa. Sebenarnya ketika lulus SMP dulu, orang tuanya sudah akan menyekolahkan dia di luar negeri, namun dia tidak mau karena walaupun ingin sekolah di luar negeri, dia tidak ingin memakai duit orang tuanya.

Sebenarnya saya sangat menikmati obrolan itu, mendengar semua cerita si Mawar. Namun  saat itu sudah jam 3 sore, gerimis sudah reda, dan saya harus mengajar di tempat lain sore itu juga. Sebelum saya pulang, saya menutup semua jendela lab bahasa yang masih terbuka dan Mawar melihat-lihat isi mading sekolah yang mungkin ada beberapa karyanya yang dipajang di situ.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar