![]() |
Pantai Batulamampu, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan |
“Sepuluh tahun sudah saya di sini dan
belum sekalipun pulang ke Jawa. Dulu saya ke sini modal nekad aja. Sebatang
kara nggak kenal siapa siapa. Kalo tidur di masjid masjid. Untuk makan saja
kadang cuma sekali sehari. Alhamdulilah kalo lagi darurat gitu, ada aja orang
yang berbaik hati ngasih saya makan.”
“Sampe berapa lama seperti itu, Mas?”
Tanya saya.
“Lama, bertahun-tahun pokoknya. Sampe
akhirnya tiga tahun yang lalu Pak Wahyudi menemukan saya. Beliau mengajak saya
ke rumahnya. Lalu saya ceritakan semuanya. Sejak saat itu saya selalu ikut
beliau. Sampai sekarang. Saya nggak tau gimana cara berterima kasih sama beliau.
Terlalu banyak yang sudah beliau berikan.”
“Ada rencana pulang ke Jawa, Mas?”
“Alhamdulillah sekarang saya sudah
diberi rezeki yang cukup. Jadi, rencananya lebaran tahun depan saya mau ngajak
anak dan istri saya pulang ke Jawa.”
“Sepuluh tahun enggak pulang,
kontak-kontakan gitu nggak sama orang tua atau saudara?”
“Sama sekali enggak. Dulu kan pas
saya ke sini belum ada hape. Sekarang saya masih nyari-nyari informasi tentang
keluarga saya. Mudah-mudahan besok pas pulang ke Jawa bisa ketemu mereka.”
Itu adalah sepenggal obrolan antara saya dengan Mas Doni, seorang pria asal
Malang yang bekerja di dinas perhubungan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Waktu itu bulan Desember tahun 2013 ketika kami ngobrol-ngobrol di Pantai
Batulamampu, Pulau Sebatik. Sebuah pulau kecil di Kabupaten Nunukan yang
setengah wilayahnya adalah milik Malaysia. Sampai sekarang saya masih ingat
betul obrolan singkat itu.
Di sana saya sempat diajak sama Mas Doni keliling-keliling Pulau Sebatik, termasuk mengunjungi tiga pos perbatasan Indonesia Malaysia yang dijaga oleh beberapa anggota TNI. Waktu itu saya dan tiga orang kawan saya sedang liburan di Kabupaten Nunukan selama satu minggu. Selama di sana, kami nginap di rumahnya om Wahyudi, seorang pejabat dinas perhubungan Kabupaten Nunukan asal Banyuwangi, Jawa Timur yang tiga tahun yang lalu menemukan Mas Doni yang sedang terkatung-katung hidupnya di Kalimantan..
Om Wahyudi adalah kerabat dari salah seorang kawan saya yang juga berasal
dari Jawa Timur. Sama seperti Mas Doni, beliau juga mengawali karirnya di
Kalimantan dengan modal nekad. Sebelum jadi seorang pejabat di dishub Nunukan,
beliau sempat bekerja sebagai cleaning
service di sebuah bank di kota Tarakan, Kalimantan Utara. Setelah itu,
beliau beralih profesi menjadi seorang guru honorer, masih di kota Tarakan.
Saat itu, beliau tinggal di sebuah rumah sederhana milik orang Jawa juga,
namanya Bu Fatimah. Beliau sempat bercerita tentang pengalaman hidupnya selama
di Tarakan.
“Saya dulu pertama di Tarakan ikut
Ibu (*Bu Fatimah). Beliau sudah seperti ibu kandung saya sendiri. Saat saya
belum punya pekerjaan, beliau tetap berbaik hati menampung saya. Bahkan beliau
mengizinkan saya untuk meminang anak beliau. Padahal saat itu saya masih jadi pengangguran
yang tidak punya apa-apa.”
Sekarang om Wahyudi dan istri sudah dikarunia tiga orang anak. Namanya
Faroz, Nabila, dan Aziz. Mereka tinggal di Pulau Nunukan, juga bersama Bu
Fatimah, Ibu mertuanya. Selain itu, ada juga adik dari Bu Fatimah yang juga
tinggal di situ. Tidak hanya itu, ada juga seorang anak laki-laki, namanya
Candra. Dia bukan anak kandung dari om Wahyudi, bukan juga dari keluarga Bu
Fatimah. Dia adalah anak yatim piatu asal Sulawesi yang diadopsi. Sekarang dia
disekolahkan di sebuah SMA di Pulau Nunukan.
Om Wahyudi pernah mengatakan bahwa salah satu hal yang membuat karirnya
bisa lancar sampai bisa menjadi seorang pejabat adalah karena Candra. Beliau
sudah menganggap Candra sebagai anak kandungnya sendiri. Tak ada perbedaan
dalam memperlakukan Candra dan ketiga anaknya yang masih kecil-kecil. Candra
anak yang rajin. Hampir tiap pagi setelah subuh sebelum berangkat sekolah, dia
mencuci dua motor yang salah satunya adalah motor miliknya yang dibelikan om
Wahyudi.
Om Wahyudi adalah sosok yang sangat ramah. Beliau sangat senang jika
rumahnya banyak dikunjungi oleh tamu. Hal itu bisa saya lihat dari bagaimana
beliau memperlakukan saya dan ketiga kawan saya saat kami pertama kali datang
ke rumah beliau.
“Saya senang kalian datang. Rumah
jadi tambah rame. Kebetulan, kalian kan guru, jadi bisa sekalian jadi guru les
dadakan buat anak-anak saya, hehehe.”
Saat itu saya merasa seperti sudah kenal lama dengan keluarga beliau,
padahal itu adalah kali pertama saya bertemu dengan mereka. Om Wahyudi sangat
antusias mendengarkan cerita kami sebagai guru dari Jawa yang mengajar di pedalaman Kalimantan. Ketiga anak
beliau juga sangat antusias menyambut kedatangan kami. Entah untuk dijadikan
sebagai guru les private dadakan atau
cuma jadi teman bermain.
“Om guru apa? Kalo om ngajar apa?
Ajarin Nabila ya om. Ajarin Faroz ya om.” Kata Nabila dan Faroz sambil
merayu-rayu kami. Mereka seperti sedang mendapat anggota keluarga baru yang
akan membantu mengerjakan PR mereka tiap malam.
Om Wahyudi juga banyak bercerita tentang perjalanan hidupnya yang penuh
perjuangan. Beliau tak ragu untuk berbagi tentang rahasia kesuksesannya.
Padahal saya hanyalah orang yang baru beliau kenal.
“Semenjak saya jadi seperti sekarang,
saya senang menghidupi orang-orang yang belum seberuntung saya. Contohnya si
Doni yang mengantar kalian jalan-jalan di Sebatik tempo hari. Dulu saat pertama
kali saya ketemu sama dia, saya merasa kasihan. Dia belum punya pekerjaan.
Tidak punya apa-apa dan tidak kenal siapa-siapa. Persis seperti saya dulu.
Makanya saya berusaha menolongnya.”
“Lalu si Candra. Kedua orang tuanya
meninggal saat dia masih kecil. Lalu dia tinggal di sebuah panti asuhan sebelum
saya adopsi. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk menyekolahkan dia
sampai selesai kuliah. Sampai dia bekerja. Sampai dia sudah jadi orang.”
Suatu ketika, saat itu sekitar jam 5 pagi, selesai sholat Subuh, saya
keluar rumah untuk menghirup udara segar. Di situ saya lihat om Wahyudi sedang
membakar sampah dan daun-daun kering yang gugur dari pohon yang ada di depan rumah
beliau. Saya pun mencoba mengajak beliau untuk ngobrol-ngobrol sambil membantu
mengumpulkan daun-daun yang masih berserakan. Tiap habis subuh, beliau selalu
mencari kesibukan yang melibatkan fisik. Biar nggak ngantuk lagi kata beliau.
Sekalian nyari keringat juga sebelum mandi dan berangkat kerja.
Ada satu hal yang beliau katakan pada saya pagi itu. Entah kenapa,
tiba-tiba beliau memberi saya sebuah wejangan yang sampai hari ini masih saya ingat
betul.
“Kalo mau sukses Mas, harus banting
tulang dengan keringat sendiri, merangkak dari bawah sedikit demi sedikit. Kalo
yang cuma menikmati hasil jerih payah orang tuanya, itu bukan sukses namanya.
Dan jangan lupa, kalo sudah sukses, bantu orang lain untuk sukses juga. Di situlah
kesuksesan yang sebenarnya.”
Kata-kata itu masih tersimpan dengan baik di pikiran saya. Saat mengatakan
hal itu, beliau seperti sudah tau kalo saya harus mengejar kesuksesan saya
sendiri, tanpa bantuan dari orang tua. Padahal saat itu saya belum pernah
cerita sama beliau tentang kedua orang tua saya yang memang sudah tiada.
Satu minggu berlalu. Saya dan tiga kawan saya pun berpamitan. Kami
berencana untuk singgah dulu di Tarakan sebelum kembali ke tempat tugas kami di
Kabupaten Malinau. Ada dua pilihan alat transpotasi untuk menuju ke Tarakan
dari Pulau Nunukan, pesawat atau kapal. Karena kami tidak punya banyak uang,
kami pilih naik kapal, meski jauh lebih lama waktunya. Kalo berangkat habis maghrib,
subuh baru sampai.
Kebetulan, om Wahyudi punya sebuah rumah kosong di
Tarakan, rumah yang dulu beliau tinggali saat masih jadi guru honorer di situ.
Jadi kami disuruh tinggal di sana saja selama singgah di Tarakan. Setelah
berpamitan dengan keluarga beliau, kami pun berangkat menuju ke Tarakan.
(fila174)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar