Salah
seorang teman SMA saya, sebut saja namanya Firman (*bukan nama sebenarnya)
mengidap penyakit polio sejak kecil. Kaki kanannya lebih kecil dari kaki
kirinya. Dia adalah anak pertama dari empat bersaudara. Saya mengenal dia
sebagai sosok yang banyak disukai oleh teman-temannya. Walaupun punya fisik
yang tidak sempurna, dia selalu berusaha untuk tidak menjadi beban bagi
teman-temannya. Bahkan dia justru berusaha untuk bisa memberikan manfaat untuk
teman-temannya.
Karena
keterbatasan fisiknya, dia tidak mampu untuk berjalan jauh. Dia juga tidak
mampu mengendarai sepeda motor sendiri. Padahal, tidak ada angkutan umum yang
lewat di sekitar rumahnya. Walaupun begitu, dia tidak ingin merepotkan kedua
orang tuanya. Sedangkan ketiga adiknya masih kecil-kecil, belum bisa naik
sepeda motor. Untung ada Hari (*nama samaran), teman satu SMA yang rumahnya
berdekatan dengan Firman. Awalnya, Firman berangkat dan pulang sekolah nebeng
Hari. Karena tidak ingin menjadi beban, akhirnya Firman menawari Hari untuk
memakai motornya saja. Urusan bensin, Firman yang tanggung. Sejak saat itu,
Firman dan Hari ke sekolah memakai motornya Firman.
Setelah
lulus SMA, Firman dan Hari kuliah di kota yang berbeda. Firman di Jogja, sedangkan
Hari di Semarang. Tapi Tuhan Maha Penolong. Hari sudah tidak bisa membantu
lagi, datanglah Alif. Dia teman satu SMA juga. Kebetulan dia kuliah di kampus
yang sama dengan Firman. Tahun pertama kuliah, Firman dan Alif tinggal di satu rumah
kontrakan di Jogja. Tempatnya agak jauh dari kampus mereka. Berangkat dan
pulang kuliah, Firman selalu nebeng Alif. Lagi-lagi, karena tidak ingin menjadi
beban, Firman memutuskan untuk pindah ke sebuah kos-kosan tepat di depan
kampusnya. Padahal saya tahu, tarif kos di situ lumayan mahal.
Yang
saya ingat dari Firman, dia suka sekali mentraktir teman-temannya. Saat kuliah
dulu, dia selalu punya banyak cemilan di kamarnya. Bukan untuk dia makan
sendiri, tapi agar dia bisa menyenangkan setiap temannya yang main di kamarnya.
Tau sendiri kan, anak kos pasti cepet banget kalo ada makanan gratis haha.
Kebetulan orang tuanya Firman adalah pengusaha makanan oleh-oleh. Setiap dia
habis mudik, dia pasti bawa banyak makanan oleh-oleh khas kota kami, Wonosobo.
Begitulah, sedikit cerita tentang salah seorang sahabat lama saya yang selalu berusaha untuk tidak menjadi beban untuk teman-temannya. Dengan keterbatasan fisiknya, bahkan dia selalu berusaha untuk bisa memberikan manfaat untuk teman-temannya. Orang-orang yang sehat secara jasmani tapi menjadi beban untuk orang-orang di sekitarnya harusnya malu sama orang-orang seperti Firman. Kalaupun belum bisa memberikan manfaat, paling tidak janganlah menjadi beban untuk orang-orang di sekitar kita
![]() |
| Photo by Firdaus Laili |


benar sekali bang fila, jika belum bisa memberi manfaat buat orang lain, setidak nya jangn jadi beban atau jadi benalu buat orang lain :D
BalasHapusdan semoga kita senantiasa diberi kemudahan untuk selalu berusaha menjadi orang yang bermanfaat. Aamiin.
Hapus