Tak pernah terbayang sebelumnya dalam benak Ahmad Slamet Nur Hidayat bahwa
ia akan menjadi seorang ustadz yang disayangi oleh murid-murid ngajinya di
Kalimantan. Pemuda yang akrab disapa Slamet ini adalah salah satu guru SM3T yang ditempatkan di Kabupaten Malinau,
Provinsi Kalimantan Utara. Slamet mendapat tugas mengajar di SMP Negeri 1
Malinau Utara. Selain menjadi guru di sekolah, ia juga menjadi guru ngaji
setiap sore. Murid-murid ngajinya adalah anak-anak Dayak Tidung, salah satu
suku dayak yang ada di Malinau.
![]() |
| Slamet Saat Mengajari Anak-anak Dayak Mengaji |
Diantara 11 suku dayak yang ada di Kabupaten Malinau, ada 4 yang memiliki
jumlah terbanyak, yaitu Dayak Tidung, Dayak Lundayeh, Dayak Kenyah dan Dayak
Punan. Mayoritas Dayak Tidung beragama Islam, sedangkan dayak yang lain
kebanyakan beragama nasrani. Meski warganya banyak yang berbeda keyakinan, namun
kerukunan antar umat beragama di kabupaten ini terjalin dengan baik. Di
Kabupaten yang berjuluk bumi intimung ini, hampir tak pernah ada kekerasan yang
terjadi karena isu agama.
Slamet menjadi
guru ngaji untuk anak-anak Dayak Tidung di mushola dekat rumah
tempat ia tinggal selama di Malinau. Nama musholanya adalah mushola anak
sholeh. Pemuda asal Banyumas, Jawa Tengah ini mengaku belum pernah menjadi guru
ngaji sebelumnya. Namun karena tak ada yang mengajari anak-anak di sana
mengaji, akhirnya Slamet diminta mengajari mereka mengaji. Untuk pertama
kalinya, ia menjadi guru ngaji. Murid-muridnya memanggilnya Ustadz Ahmad. Ini
adalah pertama kalinya ia dipanggil ustadz. “Baru kali ini saya dipanggil ustadz, jadi beban sih.” Kata Slamet.
Jumlah murid ngaji Slamet sebanyak 60 anak, namun yang rutin berangkat
sekitar setengahnya saja. Menjadi guru ngaji, Slamet mengaku banyak belajar
tentang bagaimana harus bersabar dalam mengajar ngaji karena murid-muridnya
sangat beragam karakternya dan dari tingkat usia yang berbeda-beda, mulai dari
anak TK sampai SMP. Ia kadang kewalahan dan cukup pusing mengurus
murid-muridnya karena jumlahnya yang sangat banyak. Namun begitu, semangat yang
selalu mereka tunjukkan dalam mengaji membuat Slamet juga ikut bersemangat
mengajari mereka.
Slamet menyadari bahwa pendidikan agama sangat penting bagi anak-anak. Oleh
sebab itu, pemuda kelahiran 8 Februari 1992 ini mengajak rekan-rekannya sesama
guru SM3T di Kabupaten Malinau untuk mengadakan kegiatan keagamaan untuk
anak-anak. Akhirnya mereka menyelenggarakan sebuah kegiatan keagamaan untuk
seluruh TPA di Kabupaten Malinau. Nama kegiatannya adalah Festival Anak Sholeh
dan Festival Santri Pelangi. Dalam kegiatan ini, ada beberapa lomba yang diikuti
anak-anak TPA, diantaranya adalah lomba hafalan surat pendek, lomba membaca Al
Qur’an, dan lomba adzan. Tidak cuma anak-anak TPA, seluruh masyarakat kota
Malinau sangat antusias dan mendukung terselenggaranya kegiatan ini.
Slamet menyadari bahwa ilmu agamanya sebenarnya
belumlah cukup untuk menyandang julukan ustadz di depan namanya. Namun, sarjana
lulusan PJKR UNY ini tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik. Selain
mengajar ngaji, Slamet juga sambil memperdalam ilmu agamanya. Dengan terus
belajar, ia ingin beban yang ia rasakan setelah semakin banyak yang
memanggilnya ustadz berkurang. Ia ingin kehadirannya yang hanya satu tahun itu bisa
memberikan manfaat bagi anak-anak dan masyarakat Malinau. (fila174)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar