Sabtu, 21 Februari 2015

Menjadi Ustadz untuk Anak-anak Dayak Tidung

Tak pernah terbayang sebelumnya dalam benak Ahmad Slamet Nur Hidayat bahwa ia akan menjadi seorang ustadz yang disayangi oleh murid-murid ngajinya di Kalimantan. Pemuda yang akrab disapa Slamet ini adalah salah satu guru SM3T yang ditempatkan di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Slamet mendapat tugas mengajar di SMP Negeri 1 Malinau Utara. Selain menjadi guru di sekolah, ia juga menjadi guru ngaji setiap sore. Murid-murid ngajinya adalah anak-anak Dayak Tidung, salah satu suku dayak yang ada di Malinau.

Menjadi Guru Ngaji
Slamet Saat Mengajari Anak-anak Dayak Mengaji 
Diantara 11 suku dayak yang ada di Kabupaten Malinau, ada 4 yang memiliki jumlah terbanyak, yaitu Dayak Tidung, Dayak Lundayeh, Dayak Kenyah dan Dayak Punan. Mayoritas Dayak Tidung beragama Islam, sedangkan dayak yang lain kebanyakan beragama nasrani. Meski warganya banyak yang berbeda keyakinan, namun kerukunan antar umat beragama di kabupaten ini terjalin dengan baik. Di Kabupaten yang berjuluk bumi intimung ini, hampir tak pernah ada kekerasan yang terjadi karena isu agama.

Slamet menjadi guru ngaji untuk anak-anak Dayak Tidung di mushola dekat rumah tempat ia tinggal selama di Malinau. Nama musholanya adalah mushola anak sholeh. Pemuda asal Banyumas, Jawa Tengah ini mengaku belum pernah menjadi guru ngaji sebelumnya. Namun karena tak ada yang mengajari anak-anak di sana mengaji, akhirnya Slamet diminta mengajari mereka mengaji. Untuk pertama kalinya, ia menjadi guru ngaji. Murid-muridnya memanggilnya Ustadz Ahmad. Ini adalah pertama kalinya ia dipanggil ustadz. “Baru kali ini saya dipanggil ustadz, jadi beban sih.” Kata Slamet.

Jumlah murid ngaji Slamet sebanyak 60 anak, namun yang rutin berangkat sekitar setengahnya saja. Menjadi guru ngaji, Slamet mengaku banyak belajar tentang bagaimana harus bersabar dalam mengajar ngaji karena murid-muridnya sangat beragam karakternya dan dari tingkat usia yang berbeda-beda, mulai dari anak TK sampai SMP. Ia kadang kewalahan dan cukup pusing mengurus murid-muridnya karena jumlahnya yang sangat banyak. Namun begitu, semangat yang selalu mereka tunjukkan dalam mengaji membuat Slamet juga ikut bersemangat mengajari mereka.

Slamet menyadari bahwa pendidikan agama sangat penting bagi anak-anak. Oleh sebab itu, pemuda kelahiran 8 Februari 1992 ini mengajak rekan-rekannya sesama guru SM3T di Kabupaten Malinau untuk mengadakan kegiatan keagamaan untuk anak-anak. Akhirnya mereka menyelenggarakan sebuah kegiatan keagamaan untuk seluruh TPA di Kabupaten Malinau. Nama kegiatannya adalah Festival Anak Sholeh dan Festival Santri Pelangi. Dalam kegiatan ini, ada beberapa lomba yang diikuti anak-anak TPA, diantaranya adalah lomba hafalan surat pendek, lomba membaca Al Qur’an, dan lomba adzan. Tidak cuma anak-anak TPA, seluruh masyarakat kota Malinau sangat antusias dan mendukung terselenggaranya kegiatan ini.

Slamet menyadari bahwa ilmu agamanya sebenarnya belumlah cukup untuk menyandang julukan ustadz di depan namanya. Namun, sarjana lulusan PJKR UNY ini tetap berusaha untuk memberikan yang terbaik. Selain mengajar ngaji, Slamet juga sambil memperdalam ilmu agamanya. Dengan terus belajar, ia ingin beban yang ia rasakan setelah semakin banyak yang memanggilnya ustadz berkurang. Ia ingin kehadirannya yang hanya satu tahun itu bisa memberikan manfaat bagi anak-anak dan masyarakat Malinau. (fila174)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar