Selasa, 29 Desember 2015

Amar Kusuma, Anak Blederan yang Mendunia

Sekolah dan bekerja di luar negeri tak membuat Amar Kusuma lupa dengan kampung halamannya. Justru, ia masih bercita-cita ingin mencari ilmu sebanyak mungkin di negeri orang, agar bisa pulang dengan membawa ilmu. Siapa sangka, anak muda hebat ini adalah salah satu warga Desa Blederan, Kabupaten Wonosobo.

Amar Kusuma yang akrab disapa Amar ini, lahir pada tanggal 27 Maret 24 tahun yang lalu. Pemuda yang punya hobi musik ini adalah putra pertama dari tiga bersaudara. Kedua adiknya adalah Elan Baskara (19) dan Adyan Pamungkas (14). Ayah Amar adalah Slamet Widodo dan Ibu adalah Siti Widiyanti, warga Dusun Klesman Kulon, Desa Blederan. Mereka berprofesi sebagai guru SMP. Tak mengherankan jika pendidikan adalah nomor satu bagi Amar.

Setelah selesai mengenyam pendidikannya di SD Unggulan Wonosobo dan SMP Negeri 1 Wonosobo, Amar melanjutkan pendidikannya di SMA Taruna Nusantara, Magelang. Disanalah ia mulai mempelajari bidang astronomi. Tahun 2008, ia berhasil meraih medali emas saat mengikuti ajang International Olympiad on Astronomy and Astrophysics. Bukti prestasinya inilah yang memuluskan jalannya untuk melanjutkan studi di Nanyang Technological University, Singapura.

SBY
Amar Bersalaman dengan SBY setelah Meraih Emas Olimpiade
Setelah kuliah, Amar memutuskan untuk tetap di Singapura dan bekerja di REC SOLAR sebagai Process Engineer, sebuah perusahaan yang memproduksi sel surya guna pembangkit listrik tenaga matahari. Sebagai Process Engineer, Amar bertugas mengawasi performa produksi di perusahaan, melakukan penelitian untuk meningkatkan hasil produksi, dan menganalisa mesin yang mengalami penurunan performa.

Menduduki jabatan yang menjanjikan di Singapura tidak membuat Amar ingin berhenti. Ia masih ingin mencari studi lanjutan atau pasca sarjana, dan kemudian pulang ke Indonesia membawa ilmu di bidang energi terbarukan. Amar seperti kacang yang selalu ingat kulitnya, meski sudah hidup enak di luar negeri, tujuan akhirnya adalah di Indonesia.

Lama tinggal di Singapura membantu Amar mengenal bagaimana kehidupan  di Singapura. Segi positifnya, tinggal di sana mengajarkannya untuk disiplin, apalagi warga Singapura terkenal sangat kompetitif, sehingga sangat diperlukan ketekunan dan kerja keras agar tidak tertinggal. Meski demikian, Amar sering merasa kurang nyaman dengan tendensi masyarakat Singapura yang individualis.

Di samping itu, rasa rindu terhadap keluarga dan kampung halaman juga sering menghampirinya. Jarak yang jauh dan jadwal kerja yang padat membuat Amar jarang bertemu dengan keluarganya. Ia juga mengaku sering kangen dengan makanan Indonesia, yang menurutnya tidak bisa dikalahkan oleh makanan enak di Singapura sekalipun.

Untuk kalian yang ingin studi di luar negeri, Amar membagi tips yang berasal dari pengalamannya selama ini. Yang terpenting adalah menyiapkan sebaik mungkin syarat-syarat umum seperti tes TOEFL. Selain itu, program S2 memiliki lebih banyak peluang jika dibandingkan dengan program sarjana. Oleh sebab itu, selain menyiapkan syarat-syarat yang dibutuhkan, cobalah untuk mempunyai IP (Indeks Prestasi) yang baik. Jaga hubungan baik dengan dosen karena surat rekomendasi dari dosen bisa menjadi point tambahan.

Amar menyadari bahwa tak ada yang ideal di kehidupan nyata. Ia selalu menyiapkan rencana untuk setiap kemungkinan terburuk. Selain itu, dia juga tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Baginya, dengan mensyukuri apa yang ada, hidup akan menjadi lebih bahagia. Ia juga berpesan, bagi teman-teman yang sedang berjuang mengejar cita-cita, jangan pernah melupakan orang-orang sekitar yang menyayangi kita, terutama orang tua. Percuma jika kita bekerja keras tapi akhirnya kehilangan keluarga dan teman.

Singapura
Amar dan Keluarga di Singapura

2 komentar:

  1. Itu saudara sepupu ane. Anak dari paman kandung (adik dari ibu saya). Yang membuat saya miris adalah ketika dia mendaftar di UI dan UGM, tidak mendapat perhatian lebih. Akhirnya, negara tetangga yang menikmati.

    BalasHapus