Kamis malam baru tahu kalo beberapa teman asrama mau naik
Gunung Sindoro malam minggunya. Kebetulan minggu depan aku libur seminggu.
Kebetulan juga, Sindoro kan deket rumah. Jadi nanti pulangnya bisa langsung
istirahat. Akhirnya tanpa berpikir panjang, aku ikut mereka. Ada 9 orang
termasuk aku. Beberapa diantaranya sepertinya sudah well-experienced untuk urusan mendaki gunung. Jadi, aku tinggal
makmum saja. hehe. Jumatnya prepare, pinjam carrier, lampu senter, beli bekal, dsb. SB, jaket tebal, dan sendal
gunung sudah ada di rumah. Nanti tinggal mampir rumah sebentar.
![]() |
Perkebunan Teh Tambi, Wonosobo |
Hari sabtu aku hanya sekolah setengah hari. Kebetulan tak
ada jadwal mengajar, hanya piket perpus. Sebelum dhuhur aku sudah di asrama,
istirahat sebentar, lalu packing lagi
masukin beberapa barang yang belum masuk tas. Sekitar jam 2 siang, kami sudah ready-to-go, berangkat dari asrama pake
5 motor, menuju kota kelahiranku, Wonosobo.
Jam 5 sore alhamdulillah
sampai juga di rumah. Istirahat, sholat ashar, maghrib, isya, makan tempe kemul (*makanan khas Wonosobo), lalu
makan malam. Jam setengah 8, kami berangkat menuju basecamp pendakian Gunung
Sindoro di Desa Sigedang. Jalanan lumayan menanjak, melewati perkebunan Teh
Tambi. Sempet nanya-nanya warga di mana basecampnya dan bagaimana rute
pendakiannya. Ternyata basecampnya masih naik lagi dari desa Sigedang. Finally, sekitar jam setengah 9 kami
sampai juga di basecamp.
Unfortunately, sayang seribu sayang, begitu sampai di basecamp, salah
seorang petugas langsung bilang ke kami, “Pendakian
Sindoro ditutup mas, ada kebakaran.” Mak jleb rasanya.
Kecewa sih. Persiapan sudah matang. Bekal dan alat sudah
lengkap. Eh ternyata gunungnya ditutup. Mungkin memang kami yang cari
informasinya kurang lengkap. Sempat kepikiran mau ke bukit Sikunir, tapi
terlalu ringan. Juga rame banget pasti. Karena malam minggu. Mau ke Gunung
Prau, tapi banyak dari kami sudah pernah ke sana. Mau ke Gunung Slamet, tapi
kejauhan ke Purwokertonya. Akhirnya petugas menyarankan untuk mendaki Gunung
Sibotak saja. Baru dibuka katanya. Kami pun mengikuti saran petugas.
Setelah istirahat sebentar di basecamp, sekitar jam setengah
10, kami memulai pendakian Gunung Sibotak. Awalnya jalan kaki melewati
perkebunan teh Tambi. Lalu naik melewati sebuah jalur yang sepertinya memang
baru dibuka. Lumayan berdebu, terjal, dan licin. Untung banyak ranting-ranting pohon
yang bisa dibuat pegangan. Karena terjal dan licin, bagi yang mau mendaki
gunung ini, kami sarankan untuk memakai sepatu tracking. Aku pakai sendal gunung, kurang kencang rasanya dan masih
sering terpeleset.
Sekitar jam setengah 1 dini hari, at last kami sampai di summit
nya. Tidak setinggi Sindoro memang. Tapi medannya lumayan berat, membuat
baju yang aku pakai basah kuyup keringetan, kayak habis main futsal. fiuuhh. Tidak ada banyak tempat datar di
puncak, jadi kami perlu mencari spot
yang tepat untuk mendirikan dome. Kelar
mendirikan dome, kami bikin kopi, nutrijell, ngemil, lalu tidur.
Paginya, sekitar jam 5, hawa super dingin di puncak
Gunung Sibotak membuat kami bermalas-malasan untuk beranjak. Tapi kami harus
menunaikan kewajiban sebagai muslim. Solat subuh. Jadi, bagi yang suka naik gunung,
jangan lupa bawa air yang banyak. Selain untuk minum dan masak, bisa untuk
wudhu juga. Pendaki gunung yang keren itu tetep solat. Kapan lagi bisa solat di
puncak gunung. hehe.
![]() |
Sunrise di Puncak Gunung Sibotak |
Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Persis di depan
kami, Gunung Sindoro yang tidak jadi kami daki, berdiri kokoh menjulang tinggi.
Satu lagi tanda kebesaran Tuhan. Rasanya segar sekali menikmati udara pagi di
puncak gunung. Sungguh betapa besar nikmat Tuhan. Tak selayaknya kita sebagai
makhluk ciptaan-Nya tak mensyukuri nikmat-Nya yang begitu besar.
Perut kami mulai keroncongan. Kami pun mulai memasak.
Bahan makanan yang dibawa lumayan banyak. Maklum, rencana kami kan naik Gunung
Sindoro, tapi gak jadi, haha. Ada
sayuran, telur, sosis, tahu, dan mie instan yang siap diolah. Alat masak juga
lengkap. Emang terjamin dah kalo naik gunung bareng temen-temen yang sudah
berpengalaman. Thanks, mates.
Selesai sarapan dan menikmati pagi di puncak Gunung
Sibotak, kami pun beres-beres, siap-siap untuk turun. Tak lupa kami pamitan
dengan mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Belum tentu kami ke sini
lagi. Tak lupa juga untuk tidak meninggalkan satu pun sampah, apalagi yang
berbahan plastik. Buat para pendaki nih, jangan pernah lupa ini saat mendaki, “Leave nothing but footprints, take nothing
but pictures.” Pendaki yang baik harus tetap melestarikan alam dan menjaga
kebersihan.
![]() |
Di Puncak Gunung Sibotak |
Kami pun turun. Sebelum leyeh-leyeh di rumahku, kami sempat mampir di Telaga Menjer. Di
sana, kami masak-masak lagi. Karena bahan makanan masih ada. hehe. Matras kami gelar lagi, lalu makan
bersama, sambil menikmati indahnya panorama Telaga menjer. Kayak piknik
keluarga pokoknya.
Melelahkan, tapi menyenangkan. Aku menemukan hal baru.
Bukan karena aku hobi naik gunung, tapi dengan mendaki, aku jadi lebih tahu
arti dari kebersamaan dan setia kawan. Dengan mendaki, aku jadi lebih paham
tentang berjuang dari bawah, pantang menyerah, lalu menuju puncak untuk
benar-benar melihat keindahan. Maka, naik gunung lah bagi yang bosan dengan
rutinitas. Berkelana lah, lalu kutip hikmah yang ada di dalamnya.
Pemandangan paginya keren banget ya Allah. Keren. Keren. Keren banget.
BalasHapusAku ke Wonosobo baru nyobain main ke Dieng doang
Selain Sibotak, msh ada bukit sikunir dan gunung prau yg punya pmandangn pagi keren juga, ayo ke Wonosobo lg hehe..
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusBaru tau ada gunung botak kak.. kakak hobi botak botak ya kak?
BalasHapusMas wahyu dahinya lebar banget, botak ya?
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hapussunrisenya keren sangat! cakep! :D *ditunggu kunjungan baliknya ya*
BalasHapus