Minggu, 27 September 2015

Mendaki Gunung Sibotak, Wonosobo

Kamis malam baru tahu kalo beberapa teman asrama mau naik Gunung Sindoro malam minggunya. Kebetulan minggu depan aku libur seminggu. Kebetulan juga, Sindoro kan deket rumah. Jadi nanti pulangnya bisa langsung istirahat. Akhirnya tanpa berpikir panjang, aku ikut mereka. Ada 9 orang termasuk aku. Beberapa diantaranya sepertinya sudah well-experienced untuk urusan mendaki gunung. Jadi, aku tinggal makmum saja. hehe. Jumatnya prepare, pinjam carrier, lampu senter, beli bekal, dsb. SB, jaket tebal, dan sendal gunung sudah ada di rumah. Nanti tinggal mampir rumah sebentar.

Teh Tambi
Perkebunan Teh Tambi, Wonosobo
Hari sabtu aku hanya sekolah setengah hari. Kebetulan tak ada jadwal mengajar, hanya piket perpus. Sebelum dhuhur aku sudah di asrama, istirahat sebentar, lalu packing lagi masukin beberapa barang yang belum masuk tas. Sekitar jam 2 siang, kami sudah ready-to-go, berangkat dari asrama pake 5 motor, menuju kota kelahiranku, Wonosobo.

Jam 5 sore alhamdulillah sampai juga di rumah. Istirahat, sholat ashar, maghrib, isya, makan tempe kemul (*makanan khas Wonosobo), lalu makan malam. Jam setengah 8, kami berangkat menuju basecamp pendakian Gunung Sindoro di Desa Sigedang. Jalanan lumayan menanjak, melewati perkebunan Teh Tambi. Sempet nanya-nanya warga di mana basecampnya dan bagaimana rute pendakiannya. Ternyata basecampnya masih naik lagi dari desa Sigedang. Finally, sekitar jam setengah 9 kami sampai juga di basecamp.

Unfortunately, sayang seribu sayang, begitu sampai di basecamp, salah seorang petugas langsung bilang ke kami, “Pendakian Sindoro ditutup mas, ada kebakaran.” Mak jleb rasanya.

Kecewa sih. Persiapan sudah matang. Bekal dan alat sudah lengkap. Eh ternyata gunungnya ditutup. Mungkin memang kami yang cari informasinya kurang lengkap. Sempat kepikiran mau ke bukit Sikunir, tapi terlalu ringan. Juga rame banget pasti. Karena malam minggu. Mau ke Gunung Prau, tapi banyak dari kami sudah pernah ke sana. Mau ke Gunung Slamet, tapi kejauhan ke Purwokertonya. Akhirnya petugas menyarankan untuk mendaki Gunung Sibotak saja. Baru dibuka katanya. Kami pun mengikuti saran petugas.

Setelah istirahat sebentar di basecamp, sekitar jam setengah 10, kami memulai pendakian Gunung Sibotak. Awalnya jalan kaki melewati perkebunan teh Tambi. Lalu naik melewati sebuah jalur yang sepertinya memang baru dibuka. Lumayan berdebu, terjal, dan licin. Untung banyak ranting-ranting pohon yang bisa dibuat pegangan. Karena terjal dan licin, bagi yang mau mendaki gunung ini, kami sarankan untuk memakai sepatu tracking. Aku pakai sendal gunung, kurang kencang rasanya dan masih sering terpeleset.

Sekitar jam setengah 1 dini hari, at last kami sampai di summit nya. Tidak setinggi Sindoro memang. Tapi medannya lumayan berat, membuat baju yang aku pakai basah kuyup keringetan, kayak habis main futsal. fiuuhh. Tidak ada banyak tempat datar di puncak, jadi kami perlu mencari spot yang tepat untuk mendirikan dome. Kelar mendirikan dome, kami bikin kopi, nutrijell, ngemil, lalu tidur.

Paginya, sekitar jam 5, hawa super dingin di puncak Gunung Sibotak membuat kami bermalas-malasan untuk beranjak. Tapi kami harus menunaikan kewajiban sebagai muslim. Solat subuh. Jadi, bagi yang suka naik gunung, jangan lupa bawa air yang banyak. Selain untuk minum dan masak, bisa untuk wudhu juga. Pendaki gunung yang keren itu tetep solat. Kapan lagi bisa solat di puncak gunung. hehe.

Sunrise
Sunrise di Puncak Gunung Sibotak
Mentari pagi mulai menampakkan sinarnya. Persis di depan kami, Gunung Sindoro yang tidak jadi kami daki, berdiri kokoh menjulang tinggi. Satu lagi tanda kebesaran Tuhan. Rasanya segar sekali menikmati udara pagi di puncak gunung. Sungguh betapa besar nikmat Tuhan. Tak selayaknya kita sebagai makhluk ciptaan-Nya tak mensyukuri nikmat-Nya yang begitu besar.

Perut kami mulai keroncongan. Kami pun mulai memasak. Bahan makanan yang dibawa lumayan banyak. Maklum, rencana kami kan naik Gunung Sindoro, tapi gak jadi, haha. Ada sayuran, telur, sosis, tahu, dan mie instan yang siap diolah. Alat masak juga lengkap. Emang terjamin dah kalo naik gunung bareng temen-temen yang sudah berpengalaman. Thanks, mates.

Selesai sarapan dan menikmati pagi di puncak Gunung Sibotak, kami pun beres-beres, siap-siap untuk turun. Tak lupa kami pamitan dengan mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Belum tentu kami ke sini lagi. Tak lupa juga untuk tidak meninggalkan satu pun sampah, apalagi yang berbahan plastik. Buat para pendaki nih, jangan pernah lupa ini saat mendaki, “Leave nothing but footprints, take nothing but pictures.” Pendaki yang baik harus tetap melestarikan alam dan menjaga kebersihan.

Sindoro
Di Puncak Gunung Sibotak
Kami pun turun. Sebelum leyeh-leyeh di rumahku, kami sempat mampir di Telaga Menjer. Di sana, kami masak-masak lagi. Karena bahan makanan masih ada. hehe. Matras kami gelar lagi, lalu makan bersama, sambil menikmati indahnya panorama Telaga menjer. Kayak piknik keluarga pokoknya.

Melelahkan, tapi menyenangkan. Aku menemukan hal baru. Bukan karena aku hobi naik gunung, tapi dengan mendaki, aku jadi lebih tahu arti dari kebersamaan dan setia kawan. Dengan mendaki, aku jadi lebih paham tentang berjuang dari bawah, pantang menyerah, lalu menuju puncak untuk benar-benar melihat keindahan. Maka, naik gunung lah bagi yang bosan dengan rutinitas. Berkelana lah, lalu kutip hikmah yang ada di dalamnya.

7 komentar:

  1. Pemandangan paginya keren banget ya Allah. Keren. Keren. Keren banget.

    Aku ke Wonosobo baru nyobain main ke Dieng doang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain Sibotak, msh ada bukit sikunir dan gunung prau yg punya pmandangn pagi keren juga, ayo ke Wonosobo lg hehe..

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  2. Baru tau ada gunung botak kak.. kakak hobi botak botak ya kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas wahyu dahinya lebar banget, botak ya?

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. sunrisenya keren sangat! cakep! :D *ditunggu kunjungan baliknya ya*

    BalasHapus