Hidup selama satu tahun jauh dari hingar bingar kehidupan kota di Pulau
Jawa adalah sebuah tantangan besar. Itulah yang pernah dirasakan oleh Aang
Saptadri Yahya, salah satu guru SM3T yang ditugaskan di Desa Nggongi, Kecamatan
Karera, Kabupaten Sumba Timur. Bagi Aang, ikut program SM-3T (Sarjana Mendidik
di daerah Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) adalah sebuah tantangan yang harus
bisa ia taklukkan. Tidaklah mudah untuk hidup sebagai minoritas di tengah-tengah
berbagai keterbatasan. Butuh kesungguhan, tekad bulat, dan semangat pantang
menyerah untuk bisa melaluinya.
Desa Nggongi, Kecamatan Karera, berjarak kurang lebih 130 km dari pusat
Kota Waingapu. Untuk mencapai desa ini, dibutuhkan waktu sekitar 7-12 jam,
tergantung dari jumlah penumpang di Oto. “Oto
adalah kendaraan roda empat seperti truk yang dimodifikasi sedemikian rupa
sehingga bisa digunakan untuk diduduki oleh penumpang” (Aang). Tidak hanya
manusia yang dimuat kendaraan ini, tapi juga hewan seperti babi, kerbau, sapi, dan
kuda. Jalan yang dilalui juga sangat ngeri.
“Ngeri” dalam bahasa Sumba artinya bahaya, rusak, atau buruk. Bukit terjal,
jalan berbatu, dan jurang menganga menjadi rute yang biasa dilewati Oto.
![]() |
| Aang dan SM-3T Sumba Timur bersama Anak-anak Karera |
Aang mendapat tugas mengajar di SMK Negeri 6 Karera sebagai guru mata
pelajaran Kimia. Selain itu, karena keterbatasan jumlah guru, ia juga harus
mengampu beberapa mata pelajaran lain seperti Matematika, Fisika, dan Biologi.
Selain di SMK Negeri 6 Karera, pemuda lulusan Pendidikan Kimia Universitas
Negeri Malang (UM) ini juga membantu mengajar di SMP Negeri 1 Ngadu Ngala,
sebuah SMP dimana Aang bermukim selama satu tahun.
Karena letak SMKN 6 Karera yang berada di tengah-tengah padang ilalang dan
sangat jauh dari pemukiman warga, Aang menempati sebuah rumah dinas sederhana
di SMPN 1 Ngadu Ngala sebagai tempat tinggal. Untuk berangkat sekolah, Ia harus
berjalan kaki selama kurang lebih satu jam setiap pagi. Bahkan ada beberapa
muridnya yang harus berjalan kaki lebih jauh lagi setiap berangkat dan pulang
sekolah. Wilayah Desa Nggongi yang berbukit-bukit membuat jarak antar
pemukiman, bahkan antar rumah, jarang yang berdekatan.
Mendidik anak-anak Nggongi bukanlah perkara mudah. Guru-guru di sini
cenderung mendidik mereka dengan cara keras. Pukul kepala, lapis wajah, dan
tendang kaki sudah menjadi hal yang biasa bagi siswa yang bermasalah. Sebagai
guru SM-3T, terkadang Aang ikut terbawa oleh cara mendidik yang keras dan
cenderung otoriter. Namun, menyerah bukanlah solusi. Bergonta-ganti pendekatan
terus dilakukannya supaya anak-anak menjadi disiplin. Dan hasilnya memang ada,
anak-anak cenderung menyukai guru yang supel (mudah bergaul) dengan mereka.
Caranya adalah dengan menyempatkan waktu bersama mereka di luar jam sekolah.
Sebagian ada yang mengungkapkan masalah mereka di rumah dan apa yang menyebabkan
mereka menjadi sedikit tidak terkendali di sekolah. Dari sinilah, Aang
mengambil langkah yang baik untuk mendidik mereka dengan cara yang baik pula.
Bagi Aang, hidup di Nggongi selama setahun adalah sebuah motivasi. Dibutuhkan
pendewasaan diri yang cukup untuk menyesuaikan diri dengan kondisi sosial
budaya yang jauh berbeda dengan yang ada di Jawa. Menjadi kaum minoritas dalam
kehidupan beragama juga tak mudah di sini. Keimanan seringkali diuji misalnya saat
menghadiri acara adat dan terhidang daging babi dan peci (minuman beralkohol).
Semua itu harus dikomunikasikan dengan baik supaya toleransi antar umat
beragama tetap utuh.
Semua masalah yang Aang alami selama menjadi guru SM-3T menjadikan dirinya semakin
termotivasi dalam proses pengembangan diri. Bagi Aang, keberadaan anak-anak
SMKN 6 Karera menjadi penyemangat tersendiri. Mereka telah memberi warna. Hitam
dan putih kadang tercipta selaras dengan berjalannya waktu.
![]() |
| Aang bersama Siswa-siswi SMKN 6 Karera |
“Kami
guru SM3T ditempatkan di sini untuk menggapai mereka yang terluar, menjangkau
mereka yang terdepan agar mereka tidak lagi tertinggal. Salam Maju Bersama Mencerdaskan
Indonesia.”



pemandangannya ajib banget, tapi memang pasangannya selalu dengan medan yang berat.... semog dunia pendidikan semakin maju dengan program2 semacam ini
BalasHapusAamiin. Sumba Timur memang memiliki pantai yang indah bang Janiarto
Hapus