Selasa, 14 Juli 2015

Kisah SM-3T di Sumba Timur: Belajar Hidup Sebagai Minoritas di Desa Nggongi

Hidup selama satu tahun jauh dari hingar bingar kehidupan kota di Pulau Jawa adalah sebuah tantangan besar. Itulah yang pernah dirasakan oleh Aang Saptadri Yahya, salah satu guru SM3T yang ditugaskan di Desa Nggongi, Kecamatan Karera, Kabupaten Sumba Timur. Bagi Aang, ikut program SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Tertinggal, dan Terluar) adalah sebuah tantangan yang harus bisa ia taklukkan. Tidaklah mudah untuk hidup sebagai minoritas di tengah-tengah berbagai keterbatasan. Butuh kesungguhan, tekad bulat, dan semangat pantang menyerah untuk bisa melaluinya.

Desa Nggongi, Kecamatan Karera, berjarak kurang lebih 130 km dari pusat Kota Waingapu. Untuk mencapai desa ini, dibutuhkan waktu sekitar 7-12 jam, tergantung dari jumlah penumpang di Oto. “Oto adalah kendaraan roda empat seperti truk yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk diduduki oleh penumpang” (Aang). Tidak hanya manusia yang dimuat kendaraan ini, tapi juga hewan seperti babi, kerbau, sapi, dan kuda. Jalan yang dilalui juga sangat ngeri. “Ngeri” dalam bahasa Sumba artinya bahaya, rusak, atau buruk. Bukit terjal, jalan berbatu, dan jurang menganga menjadi rute yang biasa dilewati Oto.

SM-3T Sumba Timur
Aang dan SM-3T Sumba Timur bersama Anak-anak Karera
Aang mendapat tugas mengajar di SMK Negeri 6 Karera sebagai guru mata pelajaran Kimia. Selain itu, karena keterbatasan jumlah guru, ia juga harus mengampu beberapa mata pelajaran lain seperti Matematika, Fisika, dan Biologi. Selain di SMK Negeri 6 Karera, pemuda lulusan Pendidikan Kimia Universitas Negeri Malang (UM) ini juga membantu mengajar di SMP Negeri 1 Ngadu Ngala, sebuah SMP dimana Aang bermukim selama satu tahun.

Karena letak SMKN 6 Karera yang berada di tengah-tengah padang ilalang dan sangat jauh dari pemukiman warga, Aang menempati sebuah rumah dinas sederhana di SMPN 1 Ngadu Ngala sebagai tempat tinggal. Untuk berangkat sekolah, Ia harus berjalan kaki selama kurang lebih satu jam setiap pagi. Bahkan ada beberapa muridnya yang harus berjalan kaki lebih jauh lagi setiap berangkat dan pulang sekolah. Wilayah Desa Nggongi yang berbukit-bukit membuat jarak antar pemukiman, bahkan antar rumah, jarang yang berdekatan.

Mendidik anak-anak Nggongi bukanlah perkara mudah. Guru-guru di sini cenderung mendidik mereka dengan cara keras. Pukul kepala, lapis wajah, dan tendang kaki sudah menjadi hal yang biasa bagi siswa yang bermasalah. Sebagai guru SM-3T, terkadang Aang ikut terbawa oleh cara mendidik yang keras dan cenderung otoriter. Namun, menyerah bukanlah solusi. Bergonta-ganti pendekatan terus dilakukannya supaya anak-anak menjadi disiplin. Dan hasilnya memang ada, anak-anak cenderung menyukai guru yang supel (mudah bergaul) dengan mereka. Caranya adalah dengan menyempatkan waktu bersama mereka di luar jam sekolah. Sebagian ada yang mengungkapkan masalah mereka di rumah dan apa yang menyebabkan mereka menjadi sedikit tidak terkendali di sekolah. Dari sinilah, Aang mengambil langkah yang baik untuk mendidik mereka dengan cara yang baik pula.

Bagi Aang, hidup di Nggongi selama setahun adalah sebuah motivasi. Dibutuhkan pendewasaan diri yang cukup untuk menyesuaikan diri dengan kondisi sosial budaya yang jauh berbeda dengan yang ada di Jawa. Menjadi kaum minoritas dalam kehidupan beragama juga tak mudah di sini. Keimanan seringkali diuji misalnya saat menghadiri acara adat dan terhidang daging babi dan peci (minuman beralkohol). Semua itu harus dikomunikasikan dengan baik supaya toleransi antar umat beragama tetap utuh.

Semua masalah yang Aang alami selama menjadi guru SM-3T menjadikan dirinya semakin termotivasi dalam proses pengembangan diri. Bagi Aang, keberadaan anak-anak SMKN 6 Karera menjadi penyemangat tersendiri. Mereka telah memberi warna. Hitam dan putih kadang tercipta selaras dengan berjalannya waktu.

SM-3T Sumba Timur
Aang bersama Siswa-siswi SMKN 6 Karera
Kami guru SM3T ditempatkan di sini untuk menggapai mereka yang terluar, menjangkau mereka yang terdepan agar mereka tidak lagi tertinggal. Salam Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.”

2 komentar:

  1. pemandangannya ajib banget, tapi memang pasangannya selalu dengan medan yang berat.... semog dunia pendidikan semakin maju dengan program2 semacam ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Sumba Timur memang memiliki pantai yang indah bang Janiarto

      Hapus