Namanya Tugi. Dia masih duduk di kelas 9 SMP Negeri 2 Mentarang Kabupaten
Malinau Provinsi Kalimantan Utara. Hobinya bermain sepakbola. Hampir setiap
sore dia bermain bola di lapangan desa Long Pada. Saat Dwi Kristiyanto datang,
salah satu guru SM3T yang ditugaskan di Long Pada, Tugi sangat senang
karena Dwi adalah guru olahraga yang juga hobi bermain bola. Setiap ekskul
sepakbola, Tugi selalu datang. Karena hobinya ini, dia menjadi salah satu
pemain bola terhebat di desanya. Desa Long Pada bahkan menjadi juara pertama
turnamen sepakbola antar kampung sekecamatan Sungai Tubu tahun lalu. Pemain
terbaiknya siapa lagi kalau bukan Tugi.
![]() |
| Anak-anak Sekolah di Long Pada |
Di sekolah, Tugi sayangnya bukan termasuk siswa yang pandai. Dia bahkan selalu
kesulitan dalam menerima pelajaran apapun, terutama yang menyangkut hitung
menghitung. Perkalian angka puluhan saja, dia masih sering salah, padahal sudah
kelas 9. Hitungan seperti itu kan seharusnya sudah dipelajari di bangku SD. Sulit
bagi Tugi menerima materi pelajaran kelas 9 yang sesuai kurikulum yang dibuat
oleh pemerintah.
Pendidikan yang didapat Tugi sebelumnya membuat kami, guru SM3T yang
bertugas di desa Long Pada, memaklumi kemampuan belajarnya yang sangat rendah.
SD tempat Tugi sekolah dulu, SD Negeri 007 Mentarang, masih memiliki banyak sekali
kekurangan. Kegiatan belajar mengajar di SD itu belum berjalan dengan baik. Penyebabnya
diantaranya adalah karena jumlah guru yang sangat kurang dan fasilitas sekolah
yang sangat tidak layak. Guru-gurunya adalah lulusan SMA. Hanya kepala
sekolahnya yang sudah bergelar sarjana. Saking kurangnya guru, bahkan ada
seorang motoris ketinting yang menjadi
guru di SD Negeri 007 Mentarang.
Tugi juga sering tidak berangkat sekolah karena harus pergi ke hutan untuk
berburu. Fisiknya yang kuat membuat dia menjadi salah satu pemburu terbaik di
Long Pada. Hanya ada beberapa pemburu hebat di desa ini. Semuanya laki-laki dan
kebanyakan masih muda. Bisa dibilang, kelangsungan hidup warga desa masih bergantung
pada pemburu-pemburu itu. Makanan utama warga adalah daging hewan hasil buruan
para pemburu, terutama babi dan celeng. Jika ada pemburu yang berhasil
menangkap hewan buruan, dia akan membagi-bagikan dagingnya ke warga. Itu adalah
cara mereka untuk berbagi.
Selain berburu, Tugi juga sering ikut warga pergi ke hutan untuk ngusa atau mencari pohon gaharu. Pohon
ini sangat langka dan sulit ditemukan. Apalagi yang dicari warga adalah pohon
gaharu yang sudah tua dan memiliki aroma wangi di bagian dalam batangnya.
Bagian ini bisa sangat mahal harganya jika dijual di kota. Sekali pergi ngusa, Tugi bisa menghabiskan waktu
hingga berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Hutan Kalimantan yang sangat luas
membuatnya harus teliti agar tidak tersesat. Selain itu, dia juga harus selalu
waspada karena banyak hewan buas yang bisa mengancam nyawanya setiap saat. Tak
jarang ada pemburu yang terluka karena diserang hewan buas.
Saat pergi ngusa, banyak yang
harus Tugi bawa. Persenjataan yang dia bawa diantaranya adalah bujak, sejenis tombak tapi dilengkapi
dengan sumpit. Peluru senjata ini sangat beracun, diracik dari dedauanan alami
hutan Kalimantan. Senjata ini Tugi gunakan untuk melumpuhkan hewan buruan.
Selain itu, Tugi juga membawa beras untuk persediaan makanan selama dia di
hutan. Sedangkan lauknya adalah hewan buruan seperti babi, rusa, dan ikan.
Bahkan hewan yang tak pernah kami duga sebelumnya, beruang, ular, dan monyet!
Hewan-hewan itu diburu dan dimakan agar bisa survive selama di hutan. Ini biasa dilakukan oleh Tugi dan warga
saat mereka berada di hutan.
![]() |
| Tugi dengan Bujak dan Hasil Buruannya |
Tugi adalah satu contoh anak Indonesia yang masih bertahan dengan kehidupan
primitifnya. Dia bahkan tidak tahu dunia luar sama sekali. Apalagi gemerlap ibu
kota, tak pernah ada dalam pikirannya. Saat kami bercerita tentang mimpi besar
di kota yang bisa diraih oleh siapapun, tak terkecuali anak-anak di pedalaman, raut
muka Tugi masih menunjukkan sebuah pesimisme. Tak terhitung berapa kali kami
memotivasi anak-anak di Long Pada, wajah Tugi masih sama. Dia masih berpikiran
bahwa masa depannya masih akan seperti warga Long Pada lainnya, bertahan hidup
di tengah hutan dengan berburu. Selama alam masih menyediakan makanan, masih
sulit bagi Tugi untuk move on dan meninggalkan
dunia primitifnya.
Satu hal baik yang bisa dipetik adalah fakta bahwa Tugi telah tercatat
sebagai seorang anak sekolah. Ya, dia adalah siswa SMP Negeri 2 Mentarang. Dia
sudah pernah belajar tentang dunia, belajar tentang hal-hal baru yang tak
pernah ia tahu sebelumnya, meskipun mungkin tak banyak jumlahnya. Paling tidak
itu menjadi sebuah langkah awal menuju perubahan peradaban di desa Long Pada. Perubahan
peradaban untuk generasi-generasi selanjutnya setelah Tugi.



nah bisa dilihat ketimpangan dalah hal pendidikan ya. Miris
BalasHapustimpang sekali bang :(
HapusIzin share.mksh
BalasHapusok bang :)
HapusIzin berbagi
BalasHapusIzin berbagi
BalasHapusoke siap bang :)
Hapushmm, sungguh riskan..
BalasHapusjangan sungguh riskan boy, chelsea riskan aja haha..
HapusSetelah baca tulisan-tulisan ms Fila, jadi kena sindrom mau memulai posting di-blog lagi ahh...
BalasHapusSetelah kelamaan vakum, hehe... *Biar moment-nya enggak hilang termakan dimensi waktu ya ms
Ayo budayakan menulis, apapun, yg penting rajin nulis hehe..
Hapus