Tempo hari saya memergoki salah seorang warga sekampung yang sedang
membuang sampah rumah tangga di sungai yang mengalir di desa kami. Tidak cuma
sekali dua kali, tapi kebiasaan tidak baik ini sudah dia lakukan berulang kali.
Padahal sudah ada tempat pembuangan sampah desa yang seminggu sekali diambil
sampahnya oleh petugas dinas kebersihan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir.
Yang membuat saya heran, dia padahal termasuk orang yang tekun beribadah di
desa kami. Dia rajin pergi ke tempat ibadah. Hampir setiap hari. Namun satu
yang sangat disayangkan, kenapa dia membuang sampah di sungai.
![]() |
| Sungai yang Mengalir di Desaku |
Desa kami terletak di kawasan dataran tinggi. Tidak jauh dari pegunungan
Dieng, Wonosobo. Sungai yang mengalir di desa kami lumayan besar, airnya jernih
dan selalu mengalir lancar. Jauh terlihat lebih baik dibanding sungai-sungai
yang ada di kota besar seperti Jakarta. Dengan kondisi sungai seperti itu dan
daerah kami yang berada di dataran tinggi, kecil kemungkinan terjadi banjir
atau sungai meluap di desa kami. Pernah sih sungai meluap saat turun hujan
lebat selama berhari-hari, namun tak mengakibatkan banjir seperti yang sering
kita lihat di Jakarta hampir setiap tahun.
Rasanya saya sangat bersyukur bisa menjadi orang desa yang tinggal di area
pegunungan seperti ini. Kami masih bisa menikmati pepohonan hijau yang masih alami.
Kami masih bisa menikmati indahnya sawah-sawah yang terbentang luas. Kami masih
bisa menikmati suara burung-burung kecil yang berkicau setiap pagi. Kami masih
bisa menikmati sungai berair jernih yang mengalir deras. Kami masih bisa
menikmati udara segar yang belum banyak terkontaminasi. Semua itu mungkin sudah
sulit dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di kota besar.
Tapi kami sadar, semua yang masih bisa kami nikmati secara gratis itu bisa
saja diambil oleh Yang Maha Kuasa kapanpun Dia berkehendak. Satu saja ada orang
yang kurang bersyukur, yang nanggung akibatnya bisa banyak orang. Bencana
banjir yang sekarang terjadi di beberapa daerah di Indonesia bisa jadi merupakan
akibat dari ulah segelintir orang yang kufur nikmat. Akibat ulah orang-orang
ini, alam menjadi murka dan terjadilah bencana. Yang jadi korban pun tak hanya
mereka, tapi semuanya! Termasuk orang-orang baik yang tidak membuang sampah di
sungai.
Terakhir, saya ingin mengutip apa yang pernah dikatakan oleh KH. Muchotob
Hamzah, rektor Universitas Sains Al Qur’an Wonosobo.
“Meskipun shalat tahajjud tiap malam,
ke masjid tiap hari, tapi kalau hutannya gundul, sungainya mampet, banjir tetap
akan datang.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar