Minggu, 15 Februari 2015

Orang Baik Juga Kena Banjir

Tempo hari saya memergoki salah seorang warga sekampung yang sedang membuang sampah rumah tangga di sungai yang mengalir di desa kami. Tidak cuma sekali dua kali, tapi kebiasaan tidak baik ini sudah dia lakukan berulang kali. Padahal sudah ada tempat pembuangan sampah desa yang seminggu sekali diambil sampahnya oleh petugas dinas kebersihan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Yang membuat saya heran, dia padahal termasuk orang yang tekun beribadah di desa kami. Dia rajin pergi ke tempat ibadah. Hampir setiap hari. Namun satu yang sangat disayangkan, kenapa dia membuang sampah di sungai.

Sungai Gunung
Sungai yang Mengalir di Desaku
Desa kami terletak di kawasan dataran tinggi. Tidak jauh dari pegunungan Dieng, Wonosobo. Sungai yang mengalir di desa kami lumayan besar, airnya jernih dan selalu mengalir lancar. Jauh terlihat lebih baik dibanding sungai-sungai yang ada di kota besar seperti Jakarta. Dengan kondisi sungai seperti itu dan daerah kami yang berada di dataran tinggi, kecil kemungkinan terjadi banjir atau sungai meluap di desa kami. Pernah sih sungai meluap saat turun hujan lebat selama berhari-hari, namun tak mengakibatkan banjir seperti yang sering kita lihat di Jakarta hampir setiap tahun.

Rasanya saya sangat bersyukur bisa menjadi orang desa yang tinggal di area pegunungan seperti ini. Kami masih bisa menikmati pepohonan hijau yang masih alami. Kami masih bisa menikmati indahnya sawah-sawah yang terbentang luas. Kami masih bisa menikmati suara burung-burung kecil yang berkicau setiap pagi. Kami masih bisa menikmati sungai berair jernih yang mengalir deras. Kami masih bisa menikmati udara segar yang belum banyak terkontaminasi. Semua itu mungkin sudah sulit dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di kota besar.

Tapi kami sadar, semua yang masih bisa kami nikmati secara gratis itu bisa saja diambil oleh Yang Maha Kuasa kapanpun Dia berkehendak. Satu saja ada orang yang kurang bersyukur, yang nanggung akibatnya bisa banyak orang. Bencana banjir yang sekarang terjadi di beberapa daerah di Indonesia bisa jadi merupakan akibat dari ulah segelintir orang yang kufur nikmat. Akibat ulah orang-orang ini, alam menjadi murka dan terjadilah bencana. Yang jadi korban pun tak hanya mereka, tapi semuanya! Termasuk orang-orang baik yang tidak membuang sampah di sungai.

Terakhir, saya ingin mengutip apa yang pernah dikatakan oleh KH. Muchotob Hamzah, rektor Universitas Sains Al Qur’an Wonosobo.

Meskipun shalat tahajjud tiap malam, ke masjid tiap hari, tapi kalau hutannya gundul, sungainya mampet, banjir tetap akan datang.” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar