![]() |
| Let's read and write your own books |
Kemarin
menjelang siang saya mampir di pameran buku yang beberapa waktu yang lalu sudah
sempat saya kunjungi. Jadi saya maen lagi ke sana, siapa tau nemu buku bagus. Disitu
sedang ada lumayan banyak anak SD, kebanyakan dari mereka sedang melihat-lihat
buku cerita anak-anak. Adik sepupu saya yang jadi EO book fair ini terlihat
sedang asyik ngobrol sama partner
nya, seseorang dari sebuah percetakan buku di Jogja. Mungkin mereka sedang
ngomongin proyekan ke depan setelah melihat ramenya event mereka kali ini.
Setelah
sedikit ngobrol sama adik sepupu saya ini, saya muter-muter nyari buku yang
saya sendiri belum tau mau nyari buku apa. Ada satu deretan buku dimana di situ
ada beberapa anak SD berseragam batik sedang asyik memilih-milih. Saya pun berhenti
di situ, penasaran pengen tahu buku seperti apa yang membuat mereka ngumpul di
situ. Rupanya yang sedang mereka pegang-pegang itu adalah buku-buku cerita rakyat
dan cerita anak-anak. Buku-buku ini semuanya tipis dan harganya murah. Kalo tebal
dan mahal, pasti anak SD tidak tertarik dan tidak akan mampu membelinya.
Saya pun ngobrol lagi sama adik sepupu saya sambil memegang salah satu
buku cerita yang saya ambil di deretan buku tadi. Setelah saya telusuri,
ternyata semua buku cerita di deretan buku itu ditulis oleh anak-anak SD di
Jogja. Saya sempat tercengang mengetahui hal itu. Jadi yang menerbitkan
buku-buku cerita ini memang mengharuskan penulisnya adalah siswa sekolah dasar.
Tentu saja target pembelinya adalah siswa SD juga. Menurut saya, ini brilian
sekali. Selain untuk meningkatkan minat baca anak-anak SD di daerah-daerah,
penerbitan buku-buku semacam ini juga akan memotivasi mereka untuk ikut
menulis.
Semakin
banyaknya penerbit buku di kota-kota besar, terutama Jogja, membuat peluang untuk
menerbitkan buku semakin besar, tak terkecuali anak SD dan para penulis pemula.
Jika anak SD saja sudah bisa menghasilkan sebuah karya tulisan yang bisa
dijual, lalu yang lebih tua harusnya lebih dari itu. Apalagi di jaman yang
sudah canggih seperti sekarang, dimana informasi apa saja bisa didapatkan
dengan mudah dan cepat. Hal ini sangat memudahkan para penulis sekarang untuk
mendapatkan bahan sebagai referensi tulisan mereka.
Tiba-tiba
saya jadi membayangkan penulis-penulis jaman dulu. Dulu kan informasi belum
bisa didapat semudah dan secepat sekarang. Berarti logikanya penulis-penulis
jaman dulu lebih hebat dari penulis-penulis sekarang. Dulu juga mungkin belum ada komunitas penulis atau komunitas blogger seperti
sekarang yang memudahkan anggotanya untuk saling bertukar pikiran. Selain itu,
penulis dulu juga tidak segampang sekarang yang bisa mempublikasikan sebuah
tulisan dengan mudah lewat Internet. Penerbit juga tidak sebanyak sekarang. Artinya
dulu seleksi kualitas tulisan yang akan terbit jadi lebih ketat. Jadi, sulit
bagi para penulis pemula untuk menerbitkan sebuah buku.
Penulis
dulu juga tidak didukung peralatan-peralatan canggih seperti sekarang. Dulu belum
ada laptop yang bisa dibawa kemana-mana buat nulis. Di rumah pun nulisnya masih
pake mesin ketik yang kalo salah ketik harus di type-ex atau ganti kertas baru. Kalo sekarang kan tinggal pencet
tombol delete atau backspace, beres. Dulu naskah tulisan
harus disimpan di box atau lebih modern dikit disimpan di disket yang rawan
error dan kapasitasnya kecil sekali. Sekarang naskah tulisan bisa disimpan rapi
dan aman di komputer atau laptop.
Kesimpulan
saya hari ini, ternyata jaman semakin modern, menjadi penulis semakin mudah. Nulis di rumah bisa, di kantor bisa, di
sekolah bisa, di taman bisa, di mana-mana bisa. Anak-anak, remaja, bapak-bapak,
ibu-ibu, sampe kakek-kakek nenek-nenek, semua bisa jadi penulis. Nulis sebagai hobi
bisa, sebagai pekerjaan sambilan bisa, sebagai pekerjaan utama lebih bisa lagi.
Tak ada batasan untuk jadi seorang penulis. Asal ada kemauan dan tindakan nyata,
jalan akan terbuka dan semuanya akan menjadi semakin mudah. (fila174)


memang betul, karena seiring berkembangnya zaman semua jadi semakin praktis.
BalasHapuspenulis-penulis jaman dulu mungkin akan banjir karya banyak kalau mereka hidup di zaman sekarang.
saya sendiri berencana menulis buku, baru rencana tapi :)
Ayo segera realisasikan bang,sebelum rencana sampeyan tergerus oleh rayap hehe,,
Hapus