Tepat satu tahun, usai sudah cerita panjang kami menjalani
pendidikan berasrama di kampus tiga menara ini. Suka dan duka. Dari gelak tawa,
canda ria, senyum manis, sampai isak tangis, semua telah kami lalui
bersama-sama. Dari yang tak mengenal sama sekali, menjadi sahabat yang dekat
sekali. Dari yang tak peduli sama sekali, menjadi tertarik dan saling
mengasihi, terangkum dengan sangat indah nan mengharukan. Hari ini semua
tersenyum, akhirnya kami yudisium.
![]() |
Bareng Pak Rektor |
Tiada kata yang lebih patut untuk dilayangkan selain
rangkaian kata terima kasih. Untuk para dosen, pengelola asrama, teman-teman, serta
semua pihak yang telah mengisi hari-hari kami selama setahun ini. Kampus ini
sungguh telah memberikan yang terbaik untuk kami, para calon guru muda penerus
pahlawan bangsa. Tak akan pernah kami lupakan jerih payah dosen-dosen kami.
Sabar menuntun hingga akhir, bahkan hingga tak tampak lagi raut wajah lelah
seolah tak ingin ada satupun diantara kami yang tidak tersenyum hari ini.
Untuk teman-teman. Kalian sungguh luar biasa. Semangat
kalian, kebersamaan kalian, totalitas kalian, bahkan hingga tingkah-tingkah
lucu kalian. Semua menghadirkan sebuah cerita unik nan menginspirasi. Di saat
ada yang terpuruk, semua berpegangan tangan. Tak ingin lupa bahwa kita adalah
satu. Dulu datang ke asrama bersama, pulang pun juga harus bersama-sama. Tak
boleh ada satu pun yang tak lulus.
Rasanya berat harus berpisah dengan kalian, meninggalkan
semua kenangan manis yang tertulis indah. Tak ada lagi drama yang menghiasai
suasana di ruang makan yang selalu riuh itu, tak ada lagi pemandangan
menyejukkan saat serombongan berpeci dan berbaju koko berduyun-duyun melangkah
menuju masjid kesayangan, tak ada lagi suara-suara ajakan berolahraga dari
berjogging ria hingga menendang bola. Semua skenario yang ada di asrama, tak
ada lagi. Semua akan menjadi kisah yang akan kami ceritakan saat kami beranjak
tua nanti.
Kini kami harus kembali ke asal masing-masing, di
universitas kehidupan. Meniti karir mempertanggungjawabkan gelar baru yang baru
saja kami sandang. Entah itu nanti di tanah sendiri atau di negeri seberang. Kami
pernah berjuang di tanah orang. Kami tak akan pernah bimbang jika kami harus
kembali dipanggil untuk berjuang. Menjadi guru garis depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar